Ueno Bank Disita, Jutaan Nasabah Tak Bisa Tarik Uang dan Presiden Paraguay Terancam Pemakzulan
Bank Sentral Paraguay menyita Ueno Bank yang disebut terkait Presiden Santiago Peña. Jutaan nasabah kehilangan akses tabungan, delapan orang ditangkap, dan senator oposisi mendorong pemakzulan Peña. Kepala Bank Sentral Carlos Carvallo diminta mundur, sementara dana publik hingga US$850 juta turut terancam.
Krisis perbankan di Paraguay memanas setelah Bank Sentral mengambil alih Ueno Bank, bank digital besar yang disebut memiliki keterkaitan bisnis dengan Presiden Santiago Peña. Keputusan dewan bank sentral yang diambil melalui pemungutan suara pada Senin (2/11) malam dan diumumkan Selasa (3/11) itu langsung berdampak pada jutaan nasabah yang tidak lagi bisa mengakses tabungan mereka.
Pengambilalihan dilakukan setelah rasio solvabilitas Ueno Bank anjlok di bawah setengah dari batas minimum yang diwajibkan aturan. Regulator menunjuk pejabat khusus untuk memeriksa keuangan bank dan melindungi aset yang tersisa. Langkah ini memungkinkan bank sentral memindahkan simpanan nasabah ke lembaga keuangan lain sebelum melikuidasi aset yang ada.
Ueno Bank mengklaim memiliki sekitar 3 juta nasabah, setara 60 persen populasi dewasa Paraguay. Bank itu juga mengelola dana publik antara US$800 juta hingga US$850 juta, termasuk sekitar US$380 juta milik dana pensiun dan kesehatan pemerintah. Besarnya dana publik yang tersimpan membuat krisis ini menyeret dimensi politik yang lebih luas.
Jaksa memerintahkan penangkapan delapan orang dalam penyelidikan dugaan pelanggaran kepercayaan dan tindak pidana lain. Mereka termasuk Presiden Ueno Bank Juan Manuel Gustale dan CEO Federico Miguel Vázquez Villasanti. Hingga Selasa (3/11) sore, dua direktur bank lainnya telah ditahan.
Presiden Peña merespons dengan membatalkan rencana perjalanan ke pertemuan internasional di Spanyol dan meminta Kepala Bank Sentral Paraguay Carlos Carvallo mundur. Peña menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan pimpinan Kongres untuk mempercepat pembahasan aturan pembayaran kepada nasabah serta menjamin pengembalian dana publik. Ia berjanji meminta pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat dalam keruntuhan bank.
"Mereka yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan, tanpa pengecualian atau hak istimewa," tulis Peña di media sosial, seperti dilaporkan AP News. Sementara Carvallo mengaku telah menandatangani surat pengunduran diri, tetapi tetap menjalankan tugas mengawasi proses pengambilalihan Ueno Bank. "Bank sentral membutuhkan ketenangan untuk menjalankan tugasnya," ujarnya.
Di lapangan, kepanikan melanda nasabah. Mereka tidak bisa mengakses rekening melalui aplikasi, menarik, maupun mentransfer uang. Sejumlah nasabah mendatangi kantor cabang Ueno Bank, tetapi kantor-kantor itu tutup dan polisi berjaga di sekitarnya. Salah satu nasabah, Víctor González, mengaku kecewa karena tidak mendapat kepastian soal tabungannya. "Ini benar-benar mencoreng nama baik negara," katanya.
Sorotan terhadap hubungan Peña dan Ueno Bank menguat sejak awal pemerintahannya pada 2023. Tak lama setelah dilantik, Peña menunjuk Carvallo memimpin bank sentral, meski Carvallo sebelumnya pernah memimpin lembaga pendahulu Ueno Bank. Regulator menyatakan Carvallo telah menarik diri dari pengambilan keputusan terkait Ueno Bank. Peña juga tercatat pernah menjadi mitra bisnis konglomerat pemilik Ueno Bank, Grupo Vázquez, hingga Maret 2025.
Krisis ini kini berkembang menjadi persoalan politik. Sejumlah senator oposisi menyatakan akan mengupayakan pemakzulan Peña karena penanganannya terhadap dana publik di bank tersebut. Namun, upaya itu menghadapi tantangan karena Partai Colorado yang dipimpin Peña menguasai kedua kamar Kongres. Peña sendiri tidak dapat mencalonkan diri lagi pada pemilihan presiden 2028, tetapi persaingan internal partai untuk menentukan penggantinya mulai memperlihatkan perpecahan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)