Bantuan AS Rp70 Triliun Dihentikan, Oposisi Sebut Netanyahu Tak Pantas Pimpin Israel
Keputusan Presiden AS Donald Trump menghentikan bantuan tahunan Rp70 triliun ke Israel memicu serangan dari oposisi. Gadi Eisenkot menilai Benjamin Netanyahu dan Partai Likud menyeret Israel ke krisis konstitusional dan tak layak lagi memegang kekuasaan. Yair Lapid menyebut langkah itu sebagai salah satu kegagalan politik dan keamanan paling parah dalam sejarah Israel.
Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan bantuan tahunan senilai US$3,8 miliar atau sekitar Rp70 triliun kepada Israel langsung menuai reaksi keras dari kubu oposisi. Gadi Eisenkot, rival terkuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sekaligus pemimpin Partai Yashar, menilai sang PM membawa bahaya nyata bagi negaranya.
Melalui unggahan di platform X pada Rabu (4/11), Eisenkot menuding keputusan Washington itu muncul karena Netanyahu dan Partai Likud kerap melakukan tindakan yang ia sebut sebagai pogrom terhadap demokrasi dan supremasi hukum ketika berada dalam situasi terdesak. Menurutnya, mereka berupaya menyeret seluruh warga Israel ke dalam krisis konstitusional yang berbahaya.
"Sayangnya, ini bukan pertama kalinya terjadi. Justru inilah alasan mengapa mereka tidak layak dan tidak pantas lagi memegang kekuasaan," ucap Eisenkot, seraya menambahkan bahwa mayoritas warga Israel memilih untuk tidak memperpanjang masa pemerintahan mereka.
Pengumuman penghentian bantuan disampaikan Trump pada Selasa (3/11), bertepatan dengan berlangsungnya pemilihan paruh waktu atau midterm election di AS. Dalam wawancara melalui telepon dengan Fox News, Trump menyatakan bahwa beberapa bulan lalu telah ada kesepakatan untuk menghentikan bantuan tersebut dan mengklaim Netanyahu tidak keberatan dengan keputusan itu.
Langkah AS itu diumumkan di tengah hasil pemilu Israel yang belum menunjukkan pemenang, baik dari kubu petahana Netanyahu maupun kubu oposisi Eisenkot. Eisenkot pun menyoroti cara pemerintah Israel menangani situasi ini. Ia mengeklaim para pejabat keamanan dan warga Israel mengetahui perubahan kerangka hubungan strategis tersebut dari media, bukan dari pernyataan resmi pemerintahan Netanyahu.
"Fakta bahwa aparat keamanan, bersama warga Israel, baru mengetahui perubahan kerangka hubungan strategis tersebut melalui media menunjukkan betapa tindakan Benjamin Netanyahu benar-benar menimbulkan bahaya nyata," tulis mantan panglima militer Israel itu. Ia menegaskan hubungan khusus Israel dengan Amerika Serikat merupakan salah satu komponen utama keamanan nasional negaranya.
Hingga kini, Netanyahu belum memberikan respons resmi kepada publik soal penghentian bantuan puluhan triliun tersebut. Namun, lembaga penyiaran publik Israel KAN melaporkan bahwa para pejabat di Kementerian Pertahanan dan militer Israel terkejut dengan pengumuman Trump. Channel 12 juga melaporkan Kementerian Keuangan Israel tidak mengetahui rencana Washington tersebut hingga Trump mengumumkannya.
Bantuan tahunan sebesar US$3,8 miliar itu sebelumnya diperkirakan menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi anggaran pertahanan Israel pada 2027 dan 2028. Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 2016, AS berkomitmen memberikan bantuan militer senilai US$38 miliar kepada Israel selama satu dekade hingga 2028.
Senada dengan Eisenkot, pemimpin oposisi lainnya sekaligus Ketua Partai Yesh Atid, Yair Lapid, menyebut pengumuman Trump sebagai salah satu kegagalan politik dan keamanan paling parah dalam sejarah Israel. Ia menilai sulit dipercaya bahwa Netanyahu menyerah begitu saja dan tidak mempersiapkan aparat keamanan menghadapi situasi ini. Eisenkot pun menuntut Netanyahu memberikan penjelasan kepada warga Israel.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)