Analis: Rupiah Berpeluang Bertahan di Bawah Rp18.500 dalam Jangka Pendek

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.100 per dolar AS pada akhir Juli diprediksi tidak akan berlanjut ke Rp18.500 dalam jangka pendek. Analis menilai tekanan eksternal seperti harga minyak dan kebijakan The Fed masih dominan, namun perkembangan terakhir justru mengurangi tekanan terhadap dolar AS. Sementara itu, pengamat lain melihat peluang pelemahan tetap terbuka, bergantung pada respons pemerintah dan situasi geopolitik.

Aug 01, 2026 - 04:32
Updated: 2 months ago
0 0
Analis: Rupiah Berpeluang Bertahan di Bawah Rp18.500 dalam Jangka Pendek
Analis: Rupiah Berpeluang Bertahan di Bawah Rp18.500 dalam Jangka Pendek

Jakarta - Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp18.100 per dolar AS pada pekan terakhir Juli diperkirakan tidak akan langsung berlanjut ke level Rp18.500. Analis menilai pergerakan mata uang Garuda dalam jangka pendek akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama harga minyak dunia dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Sepanjang pekan tersebut, rupiah tercatat beberapa kali menyentuh level Rp18.100. Pada 28 Juli, rupiah ditutup di angka Rp18.100 per dolar AS, kemudian melemah tipis ke Rp18.108 pada 29 Juli, dan mencapai level terlemahnya di Rp18.111 pada 30 Juli. Namun, pada perdagangan Jumat (31/7), rupiah berhasil menguat dan ditutup di level Rp18.022 per dolar AS, naik 89 poin atau 0,49 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa dalam jangka pendek, rupiah lebih mungkin bertahan di bawah level Rp18.500 per dolar AS. Menurutnya, meskipun tekanan terhadap rupiah masih berasal dari faktor eksternal, beberapa perkembangan terakhir justru mengurangi tekanan terhadap dolar AS. "Faktor utama masih dari eksternal, harga minyak dunia dan prospek suku bunga The Fed. Namun kalau melihat perkembangan belakangan ini, minyak walau masih tinggi, namun cukup stabil dan data ekonomi AS yang kemarin dirilis sangat negatif bagi dolar AS," ujarnya.

Sementara itu, pengamat pasar uang Ariston Tjendra berpendapat bahwa peluang rupiah melemah ke Rp18.500 per dolar AS masih terbuka. Namun, kecepatan pelemahan tersebut akan sangat bergantung pada respons pemerintah terhadap berbagai kebijakan yang menjadi perhatian pelaku pasar, serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Ariston menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik sebagai faktor kunci dalam menentukan arah pergerakan rupiah ke depan.

Di sisi lain, Ariston juga mengingatkan bahwa jika konflik geopolitik kembali memicu lonjakan harga energi dan inflasi global, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. "Kecepatannya tergantung sejauh mana pemerintah menanggapi isu program-program yang disorot pasar dan situasi perang Iran-AS yang bisa mendorong kenaikan suku bunga acuan AS," pungkasnya.

Dengan demikian, meskipun rupiah sempat menyentuh level terlemahnya, para analis melihat bahwa pergerakan selanjutnya akan sangat dinamis, dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi dan politik, baik di dalam negeri maupun internasional, yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User