Joint List Tolak Masuk Kabinet Eisenkot, Tibi Pilih Dukung dari Luar demi Singkirkan Netanyahu

Partai Arab Joint List menolak bergabung dengan koalisi Gadi Eisenkot, tetapi bersedia mendukung dari luar agar Benjamin Netanyahu tak kembali menjadi perdana menteri. Di sisi lain, Iran memperingatkan perang baru dengan AS bisa lebih lama dari konflik sebelumnya setelah Donald Trump kembali melontarkan ancaman. Menlu RI Arrmanatha Nasir juga menegaskan perdamaian adalah syarat pertumbuhan ekonomi dalam FMM G20 di Atlanta.

Nov 02, 2026 - 00:01
Updated: 1 day ago
0
Joint List Tolak Masuk Kabinet Eisenkot, Tibi Pilih Dukung dari Luar demi Singkirkan Netanyahu
Joint List Tolak Masuk Kabinet Eisenkot, Tibi Pilih Dukung dari Luar demi Singkirkan Netanyahu

Partai Arab Joint List memutuskan tidak bergabung ke dalam koalisi yang tengah diupayakan Gadi Eisenkot untuk membentuk pemerintahan baru Israel. Meski menolak masuk kabinet, Joint List menyatakan akan memberikan dukungan dari luar agar Benjamin Netanyahu tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri.

Ketua Joint List Ahmad Tibi menjelaskan bahwa keputusan itu diambil agar proses pembentukan koalisi tidak semakin rumit. Menurutnya, kehadiran partai Arab di dalam pemerintahan justru berpotensi memicu penolakan dari partai-partai sayap kanan.

"Kami tak akan menjadi bagian dari pemerintahan. Proses koalisi (kami ingin) lebih mudah bukan sulit," kata Tibi dalam wawancara Meet the Press, Sabtu (31/10), seperti dikutip Jerusalem Post.

Sementara itu, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Teheran memperingatkan bahwa perang baru melawan AS berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya.

Peringatan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan masih ada sejumlah target yang harus ditangani. Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia menegaskan bahwa AS tidak akan bisa menentukan kapan perang berakhir.

"Perang yang mungkin terjadi di masa depan bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Presiden Amerika Serikat tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu ataupun syarat berakhirnya perang tersebut," ujar Akraminia melalui televisi pemerintah Iran, dikutip AFP, Minggu (1/11).

Dari ranah diplomasi, Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir menyoroti keterkaitan antara perdamaian dan pertumbuhan ekonomi dunia. Hal itu disampaikannya dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat.

"Dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri (FMM) G20 di Atlanta, saya menegaskan bahwa tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa perdamaian dan stabilitas," kata Arrmanatha melalui akun Instagram miliknya, Sabtu (31/10).

Arrmanatha juga menyoroti konflik di Selat Hormuz, Laut Hitam, dan Laut Merah yang telah mengganggu arus perdagangan global. Menurutnya, gangguan tersebut turut mengancam ketahanan energi dan pangan dunia, dengan dampak yang meluas hingga ke masyarakat internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User