Akun WhatsApp Botok Pati Kena Suspend, Komdigi Layangkan Surat ke Meta tapi Tak Direspons
Komdigi dan Meta akhirnya buka suara soal pemblokiran akun WhatsApp aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok. Komdigi mengaku telah mengirim surat klarifikasi ke Meta pada 14 Agustus, namun tak mendapat respons hingga tenggat. Meta menyebut pemblokiran massal terjadi akibat kesalahan sistem deteksi yang bersifat global, bukan menargetkan Indonesia.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Meta akhirnya memberikan penjelasan terkait pemblokiran akun WhatsApp milik aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok. Persoalan ini mencuat setelah sejumlah pengguna mengeluhkan akun WhatsApp mereka tiba-tiba terkena suspend, termasuk akun milik aktivis asal Pati tersebut.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan serupa dari pengguna. Menindaklanjuti hal itu, Komdigi mengirimkan surat kepada Meta pada 14 Agustus untuk meminta klarifikasi resmi. Namun, hingga tenggat waktu yang ditentukan, respons yang diharapkan tidak kunjung diterima.
Karena tidak ada jawaban, Komdigi kemudian memanggil perwakilan Meta untuk hadir langsung memberikan penjelasan. Saat ditanya soal posisi akun milik Botok, Alexander menyatakan bahwa Komdigi sebagai regulator tidak mengetahui secara spesifik status akun aktivis tersebut. "Nah itu dalam posisi kami di regulator tidak mengetahui hal itu," ujar Alex kepada wartawan di Kantor Komdigi, Jakarta, Rabu (26/8).
Dari sisi Meta, Kepala Kebijakan Facebook & Messaging Meta Asia Pasifik, Esther, menjelaskan bahwa pemblokiran massal yang terjadi berkaitan dengan kesalahan sistem dalam mendeteksi akun yang dinilai melanggar aturan. WhatsApp, menurutnya, memiliki sistem yang mempelajari berbagai sinyal perilaku pengguna untuk mengidentifikasi aktivitas yang melanggar ketentuan layanan.
Esther menegaskan bahwa WhatsApp menggunakan enkripsi end-to-end sehingga isi pesan pengguna tidak dapat dibaca oleh pihak WhatsApp. Salah satu sinyal yang dipantau sistem adalah indikasi spam dan penyalahgunaan platform untuk aktivitas yang melanggar aturan. Namun, sistem tersebut melakukan kesalahan saat mengeksekusi proses deteksi sehingga sejumlah akun pengguna asli ikut terkena pemblokiran.
"Ini memang kesalahan sistem yang langsung dimitigasi," kata Esther. Ia juga memastikan bahwa pihaknya tidak menargetkan pengguna di Indonesia, karena masalah pemblokiran ini terjadi secara global. "Hal ini terjadi secara global. Jadi bukan, tidak ada upaya secara terkoordinasi untuk Indonesia," tuturnya.
Lebih lanjut, Esther menyebut sebagian besar akun yang terdampak telah dipulihkan. Bagi pengguna yang masih mengalami pemblokiran, ia menyarankan agar langsung melakukan banding melalui aplikasi, dan proses tersebut akan segera ditindaklanjuti oleh pihak WhatsApp.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0