Perubahan Iklim Bikin Karhutla Makin Sulit Dipadamkan, Risiko Melonjak 88-152 Persen
Perubahan iklim membuat kebakaran hutan dan lahan semakin sulit dipadamkan. Riset di Nature Communications menemukan aktivitas manusia meningkatkan risiko tahun kebakaran ekstrem global 88-152 persen pada 2011-2040 dibanding masa pra-industri. Suhu tinggi, kelembapan rendah, dan kekeringan udara memperparah kondisi, diperburuk deforestasi di wilayah tropis seperti Indonesia.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah dunia, termasuk Indonesia, dinilai semakin sulit dipadamkan. Penyebab utamanya adalah perubahan iklim yang terjadi selama satu dekade terakhir, yang memicu cuaca ekstrem dan kekeringan panjang sehingga karhutla makin sulit dikendalikan.
Temuan itu diperkuat riset berjudul "Climate change has increased the odds of extreme regional forest fire years globally" yang ditulis John T. Abatzoglou dan rekan-rekannya. Studi yang diterbitkan di Nature Communications pada Juli tahun lalu tersebut menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia (antropogenik) meningkatkan risiko tahun-tahun kebakaran hutan ekstrem secara global sebesar 88 hingga 152 persen pada masa kontemporer (2011-2040) dibandingkan masa pra-industri (1851-1900).
Istilah tahun-tahun kebakaran ekstrem merujuk pada tahun dengan jumlah area terbakar terbesar dalam data Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) selama 2002-2023. Para peneliti menemukan pola bahwa tahun-tahun tersebut umumnya bertepatan dengan cuaca ekstrem yang memicu kebakaran berdasarkan Fire Weather Indeks (FWI).
Pola peningkatan cuaca ekstrem itu tercermin dari rentetan kebakaran ekstrem di berbagai belahan dunia. Beberapa di antaranya adalah kebakaran hutan di Siberia (2012), Australia (2019-2020), Amerika Serikat bagian barat (2020), Chili (2022-2023), hingga Kanada (2023). Hasil penelitian menegaskan perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan regional ekstrem di seluruh dunia.
Jumlah kebakaran ekstrem serta emisi karbon yang dihasilkan pada tahun-tahun kebakaran ekstrem mengalami peningkatan drastis, setidaknya 4 hingga 5 kali lipat dibandingkan tahun-tahun lainnya. Perubahan iklim yang menjadi pemicu kebakaran ekstrem ini ditandai kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan kekeringan udara. Faktor-faktor tersebut mendorong periode panjang cuaca panas dan kekeringan yang secara bersamaan meningkatkan potensi pertumbuhan kebakaran.
Kondisi itu semakin diperparah oleh aktivitas manusia seperti deforestasi dan pembukaan lahan untuk industri pertanian dan perkebunan. Pembabatan hutan terutama terjadi di wilayah hutan tropis seperti Indonesia, membuat dampak dan durasi karhutla semakin parah akibat meluasnya kondisi kekeringan yang menjadi bahan bakar karhutla.
Temuan ini dinilai sangat krusial untuk penyusunan kebijakan pengelolaan kebakaran. Keterbatasan sumber daya pemadaman seperti personel pemadam, peralatan, dan anggaran pada tahun-tahun kebakaran ekstrem akibat titik api muncul dan meluas secara bersamaan mengharuskan adanya langkah tambahan dalam strategi pengelolaan kebakaran.
Pengelolaan karhutla disebut tidak boleh berhenti pada tindakan reaktif setelah titik api meluas. Diperlukan pula tindakan proaktif, terutama pengurangan bahan bakar alami di lapangan, pencegahan pemicu akibat aktivitas manusia, serta penyediaan infrastruktur perlindungan bagi masyarakat dan ekosistem untuk meminimalkan dampak bencana.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0