WMO Peringatkan El Nino Terkuat Sejak 1950 Berpotensi Bertahan Hingga Februari 2027

WMO memprediksi El Nino kuat akan bertahan hingga Februari 2027 dengan peluang hampir 100 persen, berpotensi menjadi yang terkuat sejak 1950. Suhu permukaan laut Pasifik diprediksi mencapai rekor 3,7 derajat Celsius di atas normal. Indonesia termasuk wilayah yang berisiko kekeringan, dengan musim hujan 2026/2027 diperkirakan datang terlambat dan lebih singkat.

Oct 09, 2026 - 04:02
Updated: 8 hours ago
0 0
WMO Peringatkan El Nino Terkuat Sejak 1950 Berpotensi Bertahan Hingga Februari 2027
WMO Peringatkan El Nino Terkuat Sejak 1950 Berpotensi Bertahan Hingga Februari 2027

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan serius terkait fenomena El Nino yang diprediksi akan bertahan hingga Februari 2027. Peluang keberlanjutan fenomena ini mencapai hampir 100 persen, dan berpotensi menjadi salah satu El Nino terkuat setidaknya sejak tahun 1950.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menyatakan bahwa El Nino telah terbentuk dengan kuat dan intensitasnya meningkat cepat. Menurutnya, prakiraan WMO menunjukkan fenomena ini tidak hanya berlanjut hingga awal 2027, tetapi juga berpotensi mencatatkan rekor baru dalam sejarah pengamatan iklim.

Data WMO menunjukkan suhu permukaan laut di Pasifik diperkirakan meningkat mencapai rekor tertinggi sepanjang Oktober hingga puncaknya pada Desember mendatang. Indeks Nino 3.4 yang menjadi pusat pengukuran El Nino tercatat melonjak dari rata-rata 1,6 derajat Celsius di atas normal pada Juni 2026 menjadi 2,5 derajat Celsius di atas normal pada Agustus.

Pada periode Oktober-November-Desember, indeks Nino 3.4 diprediksi mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius. Jika terwujud, angka ini akan jauh melampaui rekor sebelumnya sebesar 2,6 derajat Celsius yang tercatat pada 2015. Dampaknya, Agustus tahun ini sudah tercatat sebagai Agustus terpanas dalam sejarah berdasarkan laporan Copernicus, NOAA, dan NASA.

Saulo menjelaskan bahwa El Nino tidak menambahkan panas baru ke planet ini, melainkan melepaskan panas yang tersimpan di bawah permukaan laut. "Itulah sebabnya fenomena yang kuat berujung menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat," ujarnya.

Selain El Nino, dinamika iklim global juga dipengaruhi oleh Indian Ocean Dipole (IOD) yang sangat memengaruhi curah hujan di sekitar Samudra Hindia. IOD diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober, dengan anomali suhu naik sekitar 0,5 derajat Celsius sepanjang Oktober hingga Desember.

WMO memperkirakan pergeseran besar pola curah hujan seiring menguatnya El Nino. Wilayah sekitar Pasifik tengah dan timur, Tanduk Afrika, Asia Tengah, Asia Timur, Semenanjung Arab, serta Amerika Utara dan Selatan berpotensi mengalami curah hujan di atas normal. Sebaliknya, wilayah Pasifik barat dan Samudra Atlantik, termasuk subkontinen India, Amerika Tengah, dan Karibia, diprediksi mengalami kekeringan.

Indonesia termasuk wilayah yang akan terdampak kekeringan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut kombinasi El Nino dan IOD akan membuat musim hujan 2026/2027 datang terlambat dan berlangsung lebih singkat. Prakiraan ini disusun berdasarkan konsensus 13 pusat pengamatan iklim nasional dan internasional dengan data real-time dari pelampung laut, satelit, dan radiosonde.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User