Koloni Penguin Terbesar Dunia di Ambang Kehilangan Status, Populasi Anjlok Dua Pertiga

Populasi penguin chinstrap di Pulau Zavodovski, yang pernah menjadi koloni penguin terbesar dunia, menyusut sekitar dua pertiga sejak 2011. Penelitian di jurnal Current Biology menyebut krisis iklim sebagai penyebab utama, dengan perairan menghangat memaksa krill bergeser ke selatan. Ilmuwan memperingatkan risiko keruntuhan ekosistem yang lebih luas.

Oct 09, 2026 - 04:02
Updated: 8 hours ago
0 0
Koloni Penguin Terbesar Dunia di Ambang Kehilangan Status, Populasi Anjlok Dua Pertiga
Koloni Penguin Terbesar Dunia di Ambang Kehilangan Status, Populasi Anjlok Dua Pertiga

Populasi penguin chinstrap di Pulau Zavodovski, kawasan Antarktika yang sebelumnya dikenal sebagai lokasi koloni penguin terbesar di dunia, mengalami penyusutan drastis. Sejak 2011, jumlahnya merosot sekitar dua pertiga, dan krisis iklim diduga kuat menjadi pemicu utamanya.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada Rabu (7/10). Penelitian ini mengungkap bahwa penyusutan populasi berlangsung cepat dan memicu kekhawatiran para ilmuwan akan risiko keruntuhan ekosistem yang lebih luas.

"Ini merupakan penurunan populasi yang sangat besar, setara dengan hilangnya setengah juta individu yang berkembang biak dari pulau tersebut," ujar Norman Ratcliffe, pemimpin riset sekaligus ahli ekologi penguin di British Antarctic Survey, seperti dikutip dari The Guardian.

Pulau Zavodovski terletak di bagian paling utara Kepulauan Sandwich Selatan. Pada penghitungan 2011, pulau itu dihuni sekitar 600.000 penguin chinstrap dan 90.000 penguin makaroni. Namun, dengan penurunan yang terjadi hingga 2025, Zavodovski kemungkinan besar kehilangan statusnya sebagai koloni penguin terbesar di dunia. Predikat itu diperkirakan berpindah ke Cape Adare di Laut Ross.

Penguin chinstrap mudah dikenali dari garis hitam tipis di bawah paruh yang menghubungkan kedua pipinya, menyerupai tali dagu. Penelitian terbaru menunjukkan penurunan populasi spesies ini mungkin semakin cepat, sehingga para ilmuwan menilai penguin chinstrap perlu dipertimbangkan masuk dalam kategori terancam punah.

Sebelumnya pada 2020, laporan The Guardian juga menyoroti penurunan populasi penguin chinstrap di Pulau Low, Kepulauan Shetland Selatan. Temuan itu telah memunculkan kekhawatiran ilmuwan mengenai gangguan pada ekosistem Antarktika. Kini, perubahan iklim dinilai sebagai penyebab paling mungkin dari penyusutan populasi di Zavodovski.

Pemanasan akibat aktivitas manusia telah menaikkan suhu musim dingin di dalam dan sekitar Semenanjung Antarktika hingga 5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Pada 6 Juni 2026, pangkalan Esperanza milik Argentina di Semenanjung Trinity bahkan mencatat suhu musim dingin terpanas sebesar 15,4 derajat Celsius, sekitar 20 derajat Celsius di atas suhu normal untuk waktu tersebut.

Penguin chinstrap sulit beradaptasi karena sangat bergantung pada jenis makanan dan kondisi suhu laut tertentu. Data pelacakan menunjukkan mereka lebih suka mencari makan di perairan dingin sebelah barat laut Zavodovski, tempat mereka memburu krill Antarktika yang menjadi bagian terbesar dari makanannya. Namun, seiring menghangatnya perairan, krill bergeser ke selatan menuju Laut Weddell.

Di sisi lain, populasi penguin makaroni yang memiliki pilihan makanan lebih beragam justru meningkat 30 persen. Meski demikian, pertumbuhan itu tidak cukup untuk mengimbangi hilangnya penguin chinstrap. Ratcliffe menilai peningkatan populasi penguin makaroni hanya memberikan sedikit penghiburan. Jika tren saat ini berlanjut, seluruh penguin pada akhirnya akan kehabisan ruang.

Menurut Ratcliffe, hilangnya penguin chinstrap bahkan akan berdampak pada jaring-jaring makanan. "Setiap ekosistem dapat diibaratkan sebagai susunan balok Jenga raksasa, dan setiap komponen yang diambil meningkatkan risiko ekosistem runtuh sepenuhnya," jelasnya.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan juga menyingkirkan sejumlah kemungkinan lain. Mereka tidak menemukan tanda bahwa penguin chinstrap dan makaroni bersaing mendapatkan makanan. Permukiman manusia terdekat pun berada ribuan kilometer dari pulau itu. Letusan besar gunung berapi di Zavodovski pada 2016 sempat memunculkan hipotesis "Penguin Pompeii", yakni dugaan bahwa populasi penguin anjlok mendadak akibat letusan. Namun, data tidak mendukung hipotesis tersebut karena penurunan populasi berlangsung bertahap dan konsisten, bukan tiba-tiba. Pengamatan lapangan juga menunjukkan penguin chinstrap menghindari kawasan utama yang disebut asphyxia plain, tempat abu dan lava hasil letusan mengendap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User