Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas

Harga minyak dunia anjlok lebih dari 1 persen setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi. Brent turun ke US$103,35 per barel dan WTI ke US$90,55 per barel. Meski begitu, pasar masih skeptis karena Zelensky menunggu rincian teknis dan Rusia belum berkomentar. Ketegangan di Timur Tengah dan serangan Houthi menahan penurunan lebih dalam.

Oct 12, 2026 - 04:01
Updated: 1 day ago
0 0
Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas
Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas

Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Senin (12/10) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Rusia dan Ukraina telah menyepakati penghentian serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kabar ini memicu harapan pasar akan bertambahnya pasokan minyak Rusia ke pasar global.

Minyak mentah berjangka Brent tercatat turun US$1,37 atau 1,31 persen ke level US$103,35 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,30 atau 1,42 persen menjadi US$90,55 per barel.

Sentimen penurunan harga muncul setelah Trump secara mendadak mengumumkan gencatan senjata di sektor energi antara Moskow dan Kyiv pada Minggu (11/10). Pengumuman itu menyusul kesepakatan pasokan solar antara AS dan Rusia yang diteken pada Jumat (9/10) sebelumnya.

Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku masih menunggu rincian teknis kesepakatan tersebut. Hingga kini, pihak Rusia belum memberikan komentar resmi terkait klaim Trump.

Analis Utama KCM Trade, Tim Waterer, menilai sinyal damai di sektor energi mampu meredakan ketegangan pasokan dalam jangka pendek. Meski demikian, ia mengingatkan pasar masih skeptis terhadap keberlanjutan gencatan senjata itu.

"Masih ada pertanyaan mengenai keabsahan dan keberlanjutan gencatan senjata semacam itu. Tanpa bukti yang lebih jelas bahwa kesepakatan benar-benar bertahan, ruang penurunan harga tampaknya masih terbatas," ujar Waterer, dikutip Reuters.

Di sisi lain, harga Brent diperkirakan tetap bertahan di atas US$100 per barel akibat memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone ke Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu (10/10) yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Arab Saudi juga melaporkan serangan susulan di lokasi yang sama pada Minggu.

Menanggapi serangan itu, Trump membuka opsi bagi AS untuk bergabung dengan militer Saudi dalam menggempur Houthi di Yaman. Langkah ini berpotensi memperluas konflik yang telah memanas sejak AS dan Israel menggempur Iran pada Februari lalu. Ancaman pasokan semakin nyata setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan dua serangan baru terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan sekitar Pelabuhan Sohar, Oman, selama akhir pekan.

Goldman Sachs pun langsung mengerek proyeksi harga Brent untuk Desember menjadi US$90 per barel dari estimasi sebelumnya US$85 per barel. Tim analis yang dipimpin Daan Struyven mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan dari Timur Tengah pada akhirnya akan menekan harga minyak mentah, meski potensi eskalasi baru tetap membayangi. Goldman Sachs juga memproyeksikan WTI berada di rata-rata US$81 per barel pada Desember 2026 dan melandai ke US$73 per barel pada 2027.

Sementara itu, dari Teluk Meksiko, raksasa energi seperti Shell, Chevron, dan BP mulai memulihkan produksi serta mengembalikan pekerja ke anjungan lepas pantai usai Badai Isaias menerjang wilayah tersebut pada Sabtu (10/10) dini hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User