Tanggul Batang Mangor Direkonstruksi Rp4,3 Miliar, Akses Waterfront City Pariaman Segera Tersambung Lagi
Pemprov Sumbar melalui Dinas SDABK merekonstruksi tanggul Batang Mangor sepanjang 154 meter di Pariaman Selatan dengan dana Rp4,3 miliar. Proyek yang mulai 9 September 2026 ini baru mencapai 26 persen dan ditargetkan rampung awal Desember 2026, lebih cepat dari kontrak, agar akses jalan Waterfront City Kota Pariaman yang terputus akibat bencana hidrometeorologi 2025 bisa segera tersambung kembali.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tengah mengebut pembangunan kembali tanggul Batang Mangor di Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Proyek yang digarap Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Sumbar ini menjadi kunci pemulihan tebing sungai yang rusak akibat bencana hidrometeorologi 2025 sekaligus membuka kembali akses jalan Waterfront City yang sempat terputus.
Rekonstruksi tanggul sepanjang 154 meter itu dibiayai tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Provinsi Sumatera Barat senilai Rp4,3 miliar. Pekerjaan dimulai 9 September 2026 dengan masa penyelesaian maksimal 114 hari kalender, atau hingga 31 Desember 2026.
Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Daya Air Dinas SDABK Sumbar, Edola Duangga, menyampaikan bahwa konstruksi tanggul kini sudah terpasang sepanjang 57 meter. Progres fisik pekerjaan tercatat 26 persen saat dia ditemui di lokasi, Jumat (30/10/2026).
Menurut Edola, pihaknya berupaya menyelesaikan proyek lebih cepat dari target kontrak, yakni pada awal Desember 2026. Percepatan ini dilakukan dengan mempertimbangkan potensi gangguan cuaca yang bisa menghambat pekerjaan di aliran sungai.
"Pekerjaan ini diharapkan dapat diselesaikan lebih awal agar proses pemulihan infrastruktur di kawasan tersebut dapat segera dilanjutkan," ujarnya.
Setelah tanggul rampung, Pemerintah Kota Pariaman dijadwalkan merekonstruksi jalan Waterfront City sehingga konektivitas kawasan kembali tersambung. Penanganan Batang Mangor sendiri merupakan bagian dari pemulihan infrastruktur pascabencana sekaligus upaya pengurangan risiko bencana di kawasan rawan terdampak. Titik kerusakan dan kebutuhan penanganan di lokasi itu telah tercantum dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Kota Pariaman.
Upaya serupa juga dilakukan pada aliran sungai yang sama di wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Penanganan di kedua daerah diharapkan memperkuat perlindungan infrastruktur dan kawasan di sepanjang aliran sungai.
Sebagai konteks, bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat pada November 2025 merusak infrastruktur di sejumlah kabupaten dan kota. Curah hujan tinggi memicu luapan sungai, banjir, dan tanah longsor yang berdampak pada permukiman, akses jalan, serta fasilitas umum. Kondisi itu menegaskan pentingnya pemulihan infrastruktur sungai yang tidak hanya berorientasi pada perbaikan kerusakan, tetapi juga pada pengurangan risiko bencana ke depan.
Melalui pembangunan kembali tanggul Batang Mangor, Pemprov Sumbar mendorong percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana sekaligus mendukung Pemkot Pariaman mengembalikan fungsi jalan Waterfront City sebagai bagian dari konektivitas dan pengembangan kawasan kota.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)