Serangan Meningkat, Bos IMO Minta Kapal Komersil Setop Melintas di Selat Hormuz
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengimbau kapal komersil menghindari pelayaran dan perdagangan di Selat Hormuz karena serangan terus meningkat. Lebih dari 110 kapal diserang sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai akhir Februari, dengan 12 serangan tercatat pada 5-11 Oktober. IMO juga menyoroti nasib sekitar 6.000 pelaut yang masih terjebak di kawasan tersebut.
Sekretaris Jenderal International Maritime Organization (IMO) Arsenio Dominguez mengeluarkan imbauan tegas kepada kapal-kapal komersil agar menghindari pelayaran sekaligus menahan aktivitas perdagangan di Selat Hormuz. Imbauan itu disampaikan di tengah eskalasi serangan terhadap kapal-kapal komersial yang kian mengkhawatirkan.
Dominguez menegaskan, operasional pelayaran yang aman tidak mungkin dilanjutkan selama akar penyebab konflik belum ditangani. "Situasi terus memanas," ujar Dominguez dalam wawancara dengan Xinhua di kantor pusat IMO pada Jumat (16/10), seraya menegaskan bahwa imbauan organisasi tersebut tidak berubah.
Menurut data yang dipublikasikan di situs IMO, lebih dari 110 kapal telah menjadi sasaran serangan sejak konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari. Serangan terhadap kapal komersial di dalam dan sekitar Selat Hormuz dilaporkan meningkat belakangan ini.
Pada periode 5 hingga 11 Oktober, tercatat 12 serangan terhadap kapal di selat tersebut. Puncaknya terjadi pada 11 Oktober, ketika enam kapal menjadi sasaran dalam satu hari. Dominguez lantas merujuk dua insiden terbaru untuk menggambarkan dampak serius dari rangkaian serangan itu.
"Dalam beberapa hari terakhir saja, ada dua kapal yang diserang; satu kapal mengalami kerusakan total, sementara kapal lainnya masih berupaya mencapai dermaga untuk mendapatkan bantuan," kata dia.
Dominguez juga menyoroti masih banyaknya pemilik dan operator kapal yang tetap mengambil risiko meski bahaya nyata mengancam. Ia memperingatkan bahwa gangguan pelayaran yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak jauh lebih luas di sektor maritim.
"Hal ini bisa berdampak jauh lebih besar terhadap ekonomi global, pasokan sumber energi, serta ketahanan pangan," ujarnya.
Di sisi lain, IMO menyatakan terus berupaya memberikan dukungan kepada sekitar 6.000 pelaut yang masih terjebak di wilayah tersebut. Dominguez menegaskan perlindungan terhadap para pelaut harus tetap menjadi prioritas utama.
Ia menyebut IMO tengah meninjau aturan dan panduan yang ada mengenai penilaian risiko sebelum kapal memasuki zona konflik atau wilayah berisiko tinggi. Organisasi itu juga berkoordinasi dengan pemilik kapal, operator, dan perwakilan pelaut untuk mencari cara membantu para pelaut memperoleh pasokan serta menjamin hak-hak mereka sesuai Konvensi Ketenagakerjaan Maritim.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)