Sejarah Kelam Israel: Bentrok Yahudi Ashkenazi vs Sephardi dan Diskriminasi yang Tak Kunjung Usai

Israel menyimpan sejarah kelam konflik antar komunitas Yahudi, Ashkenazi dan Sephardi. Kerusuhan Wadi Salib 1959 dipicu diskriminasi terhadap Yahudi Sephardi. Hingga kini, ketimpangan pendidikan dan kekuasaan masih membayangi, dengan kesenjangan gelar sarjana yang melebar antara Mizrahi dan Ashkenazi.

Oct 11, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0 0
Sejarah Kelam Israel: Bentrok Yahudi Ashkenazi vs Sephardi dan Diskriminasi yang Tak Kunjung Usai
Sejarah Kelam Israel: Bentrok Yahudi Ashkenazi vs Sephardi dan Diskriminasi yang Tak Kunjung Usai

Israel dikenal sebagai negara penampung orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia. Namun di balik itu, negara ini pernah menorehkan sejarah kelam dalam memperlakukan warganya sendiri. Peristiwa 30 Juli 1959 di kawasan Wadi Salib menjadi saksi bentrok dua komunitas Yahudi, yakni Ashkenazi dan Sephardi. Konflik sesama Yahudi itu hingga kini masih membayangi Israel yang rentan perpecahan dari dalam.

Yahudi Ashkenazi berasal dari negara-negara Eropa, sedangkan Sephardi atau Mizrahi umumnya dari Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol, dan Portugal. Setelah Israel berdiri pada 1948 oleh kaum Yahudi Eropa, gelombang Yahudi Sephardi mulai berdatangan pada 1950-an. Namun pertemuan dua komunitas ini justru memicu konflik.

Pada 1949-1950-an, sekitar 50.000 warga Yaman diterbangkan ke Israel oleh Joint dan Jewish Agency. Mereka mengalami perlakuan buruk yang kejam dan licik. Menurut tulisan Miriam Samsonowitz di jewishaction.com, mereka ditipu hingga kehilangan seluruh tabungan hidup. Mereka diberi tahu bahwa pesawat tidak bisa terbang jika masih membawa perhiasan dan uang. Mereka kemudian dibuang di Ma'aborot, pemukiman tenda primitif berpagar kawat berduri. Anak-anak dipisahkan paksa dari orang tua, dikirim ke kibbutzim untuk indoktrinasi sekuler, bahkan bayi diculik dan dijual untuk diadopsi. Warga Yaman yang miskin tak berdaya karena kaum Mapanik sekuler mengendalikan distribusi makanan, pekerjaan, dan perumahan.

Diskriminasi ini perlahan menimbulkan kebencian. Puncaknya pada 9 Juli 1959, polisi Israel menembak dan melukai seorang imigran Yahudi Maroko bernama Yaakov Elkarif yang sedang mabuk dan membuat keonaran. Rumor yang menyebut Yaakov tewas memicu kemarahan. Warga Wadi Salib di Haifa pun berdemonstrasi, membakar mobil, merusak toko, dan menyerang markas partai penguasa Mapai serta serikat buruh Histadrut yang dianggap simbol dominasi Ashkenazi. Kerusuhan meluas ke Tiberias, Beersheba, dan Migdal HaEmek.

Hingga kini, bara diskriminasi belum padam. Yahudi Sephardi masih kurang mendapat perlakuan layak. Posisi penting di kabinet, wali kota, dan kehakiman didominasi Yahudi Ashkenazi. Pinhas Aloshi, warga Israel keturunan Tunisia, menuturkan bahwa diskriminasi dan ketidaksetaraan selalu menjadi praktik umum. Yahudi Barat memandang rendah orang lain dan enggan memberi kekuasaan kepada Mizrahi. Mereka lebih suka mengisi penjara dengan Mizrahi daripada memberi pendidikan, budaya, dan bimbingan.

Yehouda Shenhav, warga Israel keturunan Irak, menilai situasi Yahudi Mizrahi generasi ketiga saat ini lebih buruk dibanding 30 tahun lalu. Pada 1970-an, hanya 4 persen Mizrahi yang bergelar sarjana berbanding 16 persen Ashkenazi. Kini kesenjangan melebar menjadi sekitar 12 persen berbanding 50 persen. Shenhav mengaku mengubah identitasnya menjadi orang Israel, bukan Arab, karena semakin menjauh dari identitas Arab, semakin besar peluang berintegrasi. Ia menyebut kondisi ini menyedihkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User