AI Butuh Jutaan Liter Air, Proyek Data Center Rp3,5 Triliun di Purwakarta Dihentikan Sementara
Perkembangan AI mendorong kebutuhan data center yang boros air dan listrik. Proyek BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di Jatiluhur, Purwakarta, dihentikan sementara akibat persoalan perizinan dan sorotan dampak lingkungan. Pemerintah menyebut lahan, listrik, dan air sebagai syarat utama, sementara pakar menuntut kajian daya dukung sumber daya air sebelum ekspansi berlanjut.
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI di berbagai negara turut melahirkan kebutuhan besar terhadap pusat data atau data center. Namun di balik peluang ekonomi digital itu, Indonesia menghadapi tantangan serius karena operasional data center memerlukan air dan listrik dalam jumlah sangat besar, terutama pada fasilitas yang memakai sistem pendingin berbasis penguapan. Jika tidak dikelola dengan baik, kebutuhan tersebut berpotensi menambah tekanan pada sumber daya air yang selama ini juga dipakai masyarakat.
Persoalan itu terlihat nyata pada proyek data center berbasis AI milik BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di kawasan Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Proyek tersebut dihentikan sementara di tengah persoalan perizinan dan sorotan terhadap potensi dampak lingkungannya.
Ahli teknologi pengelolaan lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB) Mariana Marselina menilai pembangunan data center harus memperhitungkan dampak lingkungan sejak awal. Menurut dia, potensi dampak ekologis yang perlu dikaji meliputi penggunaan air untuk sistem pendinginan, kebutuhan energi yang besar, karakteristik air limbah, perubahan tata guna lahan dan limpasan permukaan, kebisingan, panas buangan, hingga dampak tidak langsung terhadap masyarakat yang bergantung pada sumber daya air yang sama.
Mariana menyoroti khusus persoalan air karena Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi, mulai dari penyediaan air baku hingga irigasi. Ia menekankan perlunya kajian untuk memastikan kebutuhan air data center dapat dipenuhi tanpa mengurangi alokasi bagi masyarakat dan sektor lain, termasuk saat musim kemarau. "Kekhawatiran yang timbul tersebut saya rasa wajar ya dan justru perlu dijawab dengan data. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi bahwa airnya cukup," ujarnya.
Kekhawatiran soal konsumsi air data center juga muncul di tingkat global. Studi Environmental and Energy Study Institute (EESI) yang diterbitkan pada 2025 menyebut sebuah data center dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari atau sekitar 18,9 juta liter. Peneliti Miguel Yanez-Barnuevo menyatakan jumlah itu setara dengan kebutuhan air sekitar 10 ribu hingga 50 ribu orang. Laporan yang dikutipnya juga memperkirakan data center di Amerika Serikat menggunakan 449 juta galon air per hari atau 163,7 miliar galon per tahun pada 2021.
Meski demikian, konsumsi air setiap fasilitas berbeda-beda, bergantung pada ukuran, lokasi, iklim, suhu ruangan, kepadatan chip, serta teknologi pendingin yang digunakan. Air untuk operasional data center dapat berasal dari air permukaan, air tanah, jaringan perpipaan kota, maupun air daur ulang. Dalam sistem pendingin evaporatif, sebagian air menguap untuk membuang panas dari perangkat. Yanez-Barnuevo menyebut sekitar 80 persen air yang diambil data center umumnya menguap, sementara sisanya dibuang ke fasilitas pengolahan air limbah kota.
CEO Amazon Web Services Matt Garman membantah anggapan bahwa semua fasilitas menggunakan hingga 5 juta galon air per hari. Ia menyebut rata-rata data center menggunakan sekitar 170 ribu galon air per hari, sedangkan fasilitas Amazon rata-rata menggunakan kurang dari 13 ribu galon per hari. Garman juga menyatakan penggunaan air langsung data center hanya sekitar 0,5 persen dari total penggunaan air industri langsung di Amerika Serikat. Perbedaan angka itu menunjukkan pentingnya melihat jenis fasilitas dan metode pendinginan sebelum menarik kesimpulan.
Di Indonesia, pemerintah melihat pengembangan data center sebagai bagian penting dari perkembangan industri digital dan AI. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ada tiga syarat utama agar Indonesia dapat menjadi basis industri data center, yakni ketersediaan lahan, listrik, dan air. "Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air," kata Airlangga dalam keynote speech pada acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).
Airlangga menyebut kawasan ekonomi khusus (KEK) digital di Bintan, Kepulauan Riau, telah penuh atau sold out sehingga pemerintah menyiapkan ekspansi. Pemerintah juga menyiapkan pengembangan kawasan data center di Karawang, Jawa Barat, serta memperkuat kapasitas listrik nasional dengan tambahan yang disebut dapat mencapai sekitar 500 megawatt dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Ketua Dewan Direktur Indonesia Economic Forum Dradjad Wibowo menilai Indonesia tidak bisa mengabaikan perkembangan AI karena teknologi itu akan semakin menentukan daya saing ekonomi dan teknologi suatu negara, meski ia belum memerinci solusi untuk kebutuhan air dan energi.
Dari sisi regulasi, Pengkampanye Isu Perkotaan dan Kebijakan Tata Ruang WALHI Wahyu Eka Setyawan menilai pengembangan data center perlu diiringi aturan yang memastikan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan dan pengawasan lebih ketat. "Proyek data center ini kebutuhan juga ancaman, makanya harus diregulasi. Dilematis memang. Makanya jangan buru-buru membuka investasi. Harus dicek daya tampung dan daya dukung," ujarnya. Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN menilai proyek data center di Jatiluhur perlu disertai analisis neraca air dan simulasi operasi waduk dengan memasukkan fasilitas tersebut sebagai pengguna air baru.
Mariana menegaskan pembangunan data center harus memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan dan tata ruang, di antaranya Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Ia mendorong penggunaan teknologi lebih efisien seperti sistem pendinginan tertutup (closed-loop), pendinginan imersi, pendinginan udara, dan pemanfaatan air daur ulang. Menurut dia, pembangunan fasilitas perlu dilakukan bertahap berdasarkan hasil evaluasi daya dukung dan daya tampung lingkungan. "Jadi bukan hanya menentukan kapasitas maksimum data center dari sisi bisnis dan listrik, tetapi juga menentukan apakah kapasitas tersebut masih dapat ditopang oleh sumber daya air dan lingkungan setempat," tegasnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)