Rupiah Tembus Rp18.038 per Dolar AS, IHSG Anjlok 8 Persen Usai Sinyal MSCI Turunkan Status Indonesia

Rupiah melemah ke Rp18.038 per dolar AS dan IHSG anjlok 8,01 persen pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10). Tekanan datang setelah MSCI membuka konsultasi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Analis memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan sell-off di pasar ekuitas.

Oct 16, 2026 - 04:02
Updated: 9 hours ago
0 0
Rupiah Tembus Rp18.038 per Dolar AS, IHSG Anjlok 8 Persen Usai Sinyal MSCI Turunkan Status Indonesia
Rupiah Tembus Rp18.038 per Dolar AS, IHSG Anjlok 8 Persen Usai Sinyal MSCI Turunkan Status Indonesia

Pasar keuangan Indonesia dibuka dengan tekanan berat pada Jumat (16/10). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam 8,01 persen atau 469,86 poin ke level 5.393,92, sementara nilai tukar rupiah ikut terpuruk hingga menyentuh Rp18.038 per dolar AS.

Berdasarkan data RTI Business, hingga pukul 09.00 WIB tercatat 595 saham melemah, hanya 14 saham yang menguat, dan 33 saham stagnan. Nilai transaksi saat itu mencapai Rp905,15 miliar dengan volume perdagangan 5,36 miliar saham. Di tengah aksi jual tersebut, investor asing justru mencatatkan beli bersih Rp567,96 miliar di seluruh pasar.

Pemicu utama koreksi pasar saham adalah langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memulai konsultasi atas usulan penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market. MSCI menilai reformasi pasar saham Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang konsisten, khususnya terkait transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta minimnya bukti penegakan aturan yang memadai.

MSCI mengusulkan penurunan status Indonesia langsung ke pasar mandiri, bukan ke kategori frontier market. Pelaku pasar diberi ruang menyampaikan masukan hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan final dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Di pasar valuta asing, rupiah melemah 100 poin atau 0,56 persen ke Rp18.038 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini sejalan dengan tekanan yang dialami sejumlah mata uang Asia, seperti yuan China yang turun 0,02 persen, peso Filipina melemah 0,06 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,04 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yen Jepang melemah 0,56 persen, dan won Korea Selatan terkoreksi 0,26 persen. Sementara dolar Hong Kong bergerak datar.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia, sementara tekanan dari dalam negeri datang dari aksi jual di pasar ekuitas.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi di Timur Tengah yang kembali melonjakan harga minyak mentah dunia. Dari domestik, sell-off di pasar ekuitas juga masih terus membebani rupiah," ujar Lukman pada Jumat (16/10).

Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Kombinasi tekanan eksternal dan domestik membuat pasar keuangan Indonesia masih dibayangi ketidakpastian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User