Fosil Buaya Purba di Tambang Piramida Giza Ternyata Spesies Baru, Namanya Diambil dari Dewa Mesir
Peneliti mengidentifikasi ulang tengkorak buaya yang ditemukan di tambang batu Sphinx dan Piramida Giza sebagai genus baru, Herugavialis cairensis. Fosil yang semula dianggap Tomistoma cairense ini berbeda dari buaya gavial modern. Nama Herugavialis diambil dari dewa Mesir Heru karena kemiripan kondisi fosil dengan patung Sphinx yang kehilangan hidung.
Para peneliti berhasil mengungkap identitas tengkorak buaya yang ditemukan di tambang batu Sphinx dan Piramida Giza, Mesir. Fosil tersebut bukan berasal dari jenis buaya yang masih ada saat ini, melainkan spesies yang telah lama punah. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang keanekaragaman reptil purba di kawasan Mediterania.
Sphinx Agung dan Piramida Giza dibangun menggunakan batuan kapur yang ditambang dari Formasi Mokattam, lokasi yang tidak jauh dari situs bersejarah tersebut. Pada 1920-an, para peneliti menemukan sejumlah fosil reptil di sana, termasuk tengkorak buaya gavial yang hampir lengkap. Saat itu, fosil tersebut diyakini sebagai kerangka buaya genus Tomistoma yang masih tersebar di Malaysia dan Indonesia karena kemiripan permukaan fosil. Mereka kemudian menamainya Tomistoma cairense.
Gavial diperkirakan pernah tersebar luas di Afrika dan Eurasia pada masa lalu. Kini hanya tersisa dua spesies yang masih hidup, yakni Gavialis gangeticus dan Tomistoma schlegelii. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science mengungkap perbedaan signifikan antara genus Tomistoma dan fosil dari Formasi Mokattam.
Studi kolaborasi peneliti dari Inggris, Swedia, Jerman, dan Mesir ini menggunakan CT scan untuk melihat bagian dalam tengkorak dan melakukan evaluasi ulang secara terperinci. Hasilnya, para peneliti memastikan Tomistoma cairense tidak berkelompok dengan Tomistoma schlegelii. Mereka pun menetapkan genus baru dan mengganti nama fosil tersebut menjadi Herugavialis cairensis.
Nama Herugavialis dipilih karena kesamaan kondisi fosil dengan patung Sphinx yang sama-sama kehilangan bagian hidung atau moncongnya. Heru, atau Horus, merupakan dewa langit Mesir yang menjadi inspirasi patung Sphinx. "Mengingat kesamaan ini dengan hidung Sphinx Agung yang terkenal hilang, kami memutuskan untuk menamai buaya baru ini dengan nama dewa Mesir Heru, yang mungkin menjadi inspirasi bagi monumen ikonik ini," ujar Philip Mannion, salah satu peneliti yang terlibat.
Heru dikenal sebagai dewa terpenting di Mesir Kuno, dan Firaun yang berkuasa dianggap sebagai perwujudan hidupnya di Bumi. Nama Herugavialis cairensis dipilih untuk menghormati dewa yang perkasa tersebut. Penulis utama penelitian, Paul Burke, menjelaskan bahwa selama hampir 50 juta tahun terakhir, wilayah Mediterania menjadi habitat bagi keanekaragaman buaya yang tinggi, termasuk buaya gavial.
Namun, peristiwa yang dikenal sebagai Krisis Salinitas Messinian menyebabkan Laut Mediterania mengering sekitar enam juta tahun yang lalu dan memusnahkan semua buaya di wilayah tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa fosil buaya dari Formasi Mokattam merupakan bagian dari sejarah panjang fauna purba yang kini telah hilang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)