Rupiah Tembus Rp18.038 per Dolar AS, BI Bergerak Lakukan Intervensi Pasar
Bank Indonesia gencar melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah yang melemah hingga menembus Rp18.038 per dolar AS. Intervensi dilakukan melalui NDF offshore, spot dan DNDF domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Tekanan datang dari sentimen risk-off global, eskalasi konflik Timur Tengah, dan sell-off di pasar ekuitas domestik.
Bank Indonesia (BI) bergerak cepat mengintervensi pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang semakin kuat. Langkah ini diambil setelah rupiah menembus level Rp18.038 per dolar AS pada perdagangan Jumat (16/10) pagi, melemah 100 poin atau 0,56 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral berkomitmen hadir di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamentalnya. Menurutnya, meningkatnya sentimen penghindaran risiko atau risk-off global telah mendorong penguatan dolar AS dan menekan pasar keuangan domestik, termasuk arus keluar dana dari aset portofolio dalam negeri yang diperkirakan masih berlanjut.
"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik," ujar Erwin dalam keterangannya, Jumat (16/10).
Intervensi dilakukan secara konsisten melalui sejumlah instrumen. BI melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri atau offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Selain itu, BI juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang.
Bank sentral turut berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya untuk memastikan stabilitas pasar terjaga. Erwin menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,28 persen.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Posisi ini menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan tertekan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Tekanan di pasar saham domestik juga turut membebani pergerakan rupiah.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi di Timur Tengah yang kembali melonjakan harga minyak mentah dunia. Dari domestik, sell-off di pasar ekuitas juga masih terus membebani rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Meski demikian, langkah intervensi BI diharapkan mampu menahan pelemahan lebih dalam dan menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang Garuda.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)