Wamenko Hanif Ungkap Karhutla Kalteng Makin Luas, 100 Ribu Hektare Lahan Ludes Terbakar
Wamenko Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengungkap karhutla di Kalimantan Tengah telah meluas melewati 100 ribu hektare, gabungan dari Palangka Raya dan Pulang Pisau. Gambut yang terbakar mencapai kedalaman lebih dari 10 meter, membuat pemadaman jauh lebih rumit dibanding Kalimantan Selatan. Kabut asap pekat juga membuat langit Palangka Raya menguning dan dinilai sangat berbahaya bagi kesehatan.
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah kian meluas. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyebut total area yang hangus telah melewati 100 ribu hektare, hasil gabungan dari dua wilayah yang menjadi prioritas penanganan, yakni Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau.
Di Palangka Raya, sekitar 39 ribu hektare lahan tercatat sebagai area langganan terbakar dengan intensitas hotspot tinggi. Menurut Hanif, kawasan itu memang berulang kali dilanda kebakaran dengan titik api yang cukup banyak. Sementara di Kabupaten Pulang Pisau, karhutla melanda kawasan lindung gambut seluas hampir 93 ribu hektare.
"Area ini (Palangka Raya) memang terindikasi terjadi kebakaran berulang dengan hotspot, fire spot, yang cukup banyak," ujar Hanif usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Jakarta Barat, Kamis (15/10).
Operasi pemadaman di Kalteng merupakan bagian dari mandat Kemenko Pangan untuk mengawal penanganan karhutla di empat provinsi: Kalimantan Selatan, Papua Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Namun Hanif menilai tantangan di Kalimantan Tengah jauh lebih rumit dan menuntut strategi yang sangat presisi.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Tengah menyebut sebagian lapisan gambut yang terbakar memiliki kedalaman lebih dari 10 meter. Kondisi itu menyulitkan tim gabungan memadamkan api yang tertimbun di bawah permukaan tanah. Situasi ini kontras dengan Kalimantan Selatan, tempat kolaborasi lintas pihak berhasil menjinakkan lahan seluas 3 ribu hektare, sementara 10 ribu hektare lainnya masih ditangani lewat metode pembalikan tanah dan perendaman gambut.
"Kalimantan Selatan yang kurang dari 3 meter saja memerlukan waktu berbulan-bulan kita untuk menaklukkannya. Apalagi di Kalimantan Tengah, terutama berdasarkan fire spot ataupun hotspot yang memiliki confident tinggi," kata Hanif.
Hanif juga menyoroti viralnya potret dan video langit Palangka Raya yang menguning akibat kabut asap pekat. Berbekal pengalaman 33 tahun di kementerian yang membidangi kehutanan dan lebih dari satu dekade menangani karhutla, ia mengaku memahami penderitaan warga yang terpapar asap.
"Di Palangka Raya yang media sosialnya cukup sangat dramatis, kita merasa betul bagaimana sesaknya setiap kita buka pintu. Hampir setiap hari kita sadar betul karena belajar juga hampir setiap tahunnya berada dalam lingkaran kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.
Ia menegaskan fenomena matahari yang tampak kuning pekat karena terhalang asap menjadi indikator bahwa udara di wilayah itu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Menurut Hanif, warna kuning matahari menggambarkan emulsi atau particulate matter dalam kadar luar biasa yang masuk kategori sangat berbahaya bagi semua orang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)