Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS, Sentimen Risk-Off dan Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.913 per dolar AS pada perdagangan Senin (12/10). Analis DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan terjadi akibat sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik dan regional, ditambah kekhawatiran investor terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta antisipasi data inflasi AS pekan ini.
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Senin (12/10). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.913 per dolar AS, turun 14 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini sejalan dengan pergerakan bervariasi mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang tercatat melemah, seperti yuan China yang turun 0,01 persen dan yen Jepang yang terkoreksi 0,08 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong bergerak datar di pasar.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru berhasil menguat. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,62 persen, disusul peso Filipina yang terapresiasi 0,10 persen, ringgit Malaysia naik 0,06 persen, dan dolar Singapura menguat tipis 0,03 persen.
Pergerakan serupa juga terlihat pada mata uang negara maju. Euro melemah 0,07 persen dan dolar Australia terkoreksi 0,16 persen. Franc Swiss dan dolar Kanada masing-masing turun 0,27 persen dan 0,05 persen, sedangkan poundsterling Inggris mencatat penguatan kecil 0,03 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen penghindaran risiko atau risk-off yang melanda pasar saham domestik maupun regional. Menurutnya, investor saat ini cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-off pasar ekuitas domestik maupun regional. Investor juga masih cenderung berhati-hati di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan antisipasi data inflasi AS pekan ini," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/10).
Kekhawatiran terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Selain itu, pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan akan mempengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama perkembangan situasi di Timur Tengah dan data ekonomi dari Amerika Serikat. Pelaku pasar diminta tetap mencermati setiap sentimen yang dapat mempengaruhi nilai tukar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)