PM Perempuan Pertama Jepang Keluhkan Beban Ganda, Urus Dapur hingga 4 Jam Lebih Lama dari Pendahulunya
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengungkapkan waktu kerjanya lebih panjang tiga hingga empat jam dibandingkan pendahulu laki-laki karena harus menyiapkan sarapan dan mengurus rumah tangga. Ia juga hanya tidur dua hingga empat jam per malam. Keluhan ini muncul di tengah keterwakilan perempuan yang rendah di politik Jepang, dengan hanya 68 dari 465 kursi Majelis Rendah diisi perempuan.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengungkapkan bahwa jam kerjanya setiap hari bisa lebih panjang beberapa jam dibandingkan para pendahulunya yang laki-laki. Penyebabnya bukan hanya tugas kenegaraan, tetapi juga beban pekerjaan rumah tangga yang tetap harus ia tanggung. Hal itu ia sampaikan dalam pertemuan parlemen pada Rabu (14/10).
Takaichi menceritakan rutinitas paginya yang tidak pernah lepas dari urusan domestik. Sebelum memulai tugas sebagai kepala pemerintahan, ia harus mandi, menyiapkan sarapan, mencuci piring, hingga merias wajah. "Pada pagi hari, saya mandi, menyiapkan sarapan, lalu mencuci piring, belum lagi merias wajah," ujarnya di hadapan parlemen, seperti dikutip The Straits Times.
Menurut perdana menteri perempuan pertama Jepang itu, rangkaian pekerjaan rumah tangga tersebut membuatnya kehilangan waktu tiga hingga empat jam lebih banyak dibandingkan perdana menteri laki-laki. Pengakuan ini mencuat di tengah sorotan terhadap cara Takaichi mengatur waktunya, terutama setelah seorang anggota koalisi pemerintah mempertanyakan durasi standar kehadiran perdana menteri di sidang parlemen.
Takaichi sendiri dikenal sebagai pekerja keras. Ia pernah mengaku hanya tidur dua hingga empat jam setiap malam dan kadang menjadwalkan rapat dengan staf pada pukul 03.00 dini hari. Dalam unggahan di X pada Juli, ia menyatakan terus berkutat hingga menjelang pagi untuk mempelajari dokumen yang dibawa pulang dari kantor serta berkas-berkas terkait pertanyaan di parlemen.
"Saya memang menikmati membaca tumpukan dokumen yang saya bawa pulang pada tengah malam," kata Takaichi. Meski demikian, ia mengaku sulit meluangkan waktu untuk benar-benar duduk dan berpikir jernih mengenai arah masa depan negara atau visi besarnya.
Di sisi lain, anggota Partai Inovasi Jepang, Fumitake Fujita, menyoroti panjangnya waktu yang dihabiskan pemimpin Jepang di parlemen. Mengutip sebuah studi, ia menyebut pada 2022 perdana menteri Jepang menghadiri sidang parlemen selama 72 hari, jauh lebih banyak dibandingkan 50 hari di Inggris dan 13 hari di Jerman. Fujita menilai pentingnya pembahasan legislatif, tetapi menurutnya durasi selama itu tidak sejalan dengan standar global.
Persoalan yang dihadapi Takaichi juga mencerminkan kondisi peran gender di Jepang yang masih belum menjadi perhatian utama. Keterwakilan perempuan dalam politik Jepang tercatat sangat rendah. Pada pemilihan terakhir untuk Majelis Rendah Februari lalu, hanya 68 perempuan yang terpilih dari total 465 kursi yang diperebutkan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)