Anwar Ibrahim Akhirnya Bersuara Usai Dituding Lembek Hadapi Kabut Asap Karhutla Indonesia
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membuka suara setelah dikritik karena dianggap lembek menangani kabut asap akibat karhutla Indonesia. Kritik datang dari Khairy Jamaluddin dan Lim Guan Eng yang mendesak langkah tegas, bahkan menuntut ganti rugi. Anwar menyatakan pemerintah sudah melakukan yang bisa dilakukan, sementara kualitas udara di 34 dari 68 stasiun Malaysia tak sehat dan sekolah di Kuala Lumpur ditutup.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim akhirnya angkat bicara menanggapi tudingan bahwa pemerintahannya terlalu lunak dan tidak proaktif dalam menangani kabut asap lintas batas yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Pernyataan itu disampaikannya usai menghadiri peluncuran Proyek Residensi Mahasiswa Universitas Malaya (UM) pada Kamis (15/10).
"Kami sudah melakukan yang kami bisa," ujar Anwar kepada awak media, sebagaimana dikutip Malay Mail. Komentar singkat itu menjadi respons pertama Anwar setelah tekanan publik dan politik terus menguat terkait memburuknya kualitas udara di Malaysia.
Kritik keras sebelumnya datang dari mantan Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin. Ia menilai pemerintah terlalu lunak dalam menyikapi kabut asap yang berulang setiap tahun dari Indonesia, dan mendesak adanya langkah tegas yang lebih konkret.
Senada dengan itu, anggota parlemen Bagan Lim Guan Eng meminta pemerintahan Anwar mempertimbangkan langkah hukum terhadap Indonesia untuk menuntut ganti rugi atas dampak kabut asap. Usulan itu ia sampaikan dalam pidato membahas Anggaran 2027 di Dewan Rakyat, Kamis (15/10).
Lim juga mengusulkan pembentukan gugus tugas ASEAN permanen yang melibatkan Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Filipina. Menurutnya, satuan itu akan memungkinkan negara-negara ASEAN menangani kebakaran sebelum asap menyebar melintasi perbatasan nasional.
"Jika pemerintah Indonesia menolak gugus tugas ASEAN dengan alasan kedaulatan nasional, pemerintah Malaysia tak akan punya pilihan selain memulai tindakan hukum untuk menuntut ganti rugi," kata Lim, dikutip Malay Mail. Ia menegaskan rakyat Malaysia tidak bisa lagi berdiam diri menghadapi krisis kabut asap yang berulang.
Seruan tersebut muncul di tengah kondisi udara Malaysia yang terus memburuk. Pada Kamis pukul 10 pagi, indeks polusi udara (API) di 34 dari 68 stasiun pemantauan tercatat berada pada level tidak sehat.
Dampaknya, Malaysia telah menutup sekolah di Kuala Lumpur dan sejumlah negara bagian sejak beberapa pekan terakhir. Para pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan juga terdampak secara ekonomi akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)