Karyawan OpenAI Ditangkap, Diduga Pasang Alat Sadap di Ruang Rapat Eksekutif

Seorang karyawan OpenAI asal Arab Saudi, Abdulrahman Alfozan, ditangkap karena diduga memasang alat penyadap di ruang rapat eksekutif kantor pusat OpenAI di San Francisco. Alat perekam ditemukan tersembunyi di dalam tisu toilet dan diduga terpasang sejak 28 September. FBI mengungkap bukti CCTV dan diskusi pelaku dengan AI terkait aksi penyadapan. Alfozan menghadapi sidang penahanan pada 19 Oktober.

Oct 15, 2026 - 12:02
Updated: 18 hours ago
0 0
Karyawan OpenAI Ditangkap, Diduga Pasang Alat Sadap di Ruang Rapat Eksekutif
Karyawan OpenAI Ditangkap, Diduga Pasang Alat Sadap di Ruang Rapat Eksekutif

Seorang karyawan OpenAI berinisial Abdulrahman Alfozan, warga negara Arab Saudi berusia 35 tahun, ditangkap pada Jumat (9/10) karena diduga memasang alat penyadap di ruang rapat eksekutif kantor pusat OpenAI di San Francisco, Amerika Serikat. Penangkapan ini dilakukan setelah penyidik menemukan bukti kuat, termasuk rekaman CCTV dan percakapan pelaku dengan kecerdasan buatan (AI) terkait aksi penyadapan tersebut.

Menurut Direktur FBI Kash Patel, Alfozan diduga menyembunyikan alat perekam rahasia di dalam ruang konferensi eksekutif perusahaan tempatnya bekerja. Tujuannya untuk merekam komunikasi sensitif tentang teknologi super intelligence yang sedang dikembangkan OpenAI. Alfozan bekerja sebagai insinyur di kantor OpenAI San Francisco sejak Juli 2025.

Alat perekam audio itu pertama kali ditemukan oleh karyawan lain pada 30 September di dalam port USB di bagian belakang televisi ruang rapat eksekutif. Alat tersebut disembunyikan di dalam tisu toilet dan diperkirakan telah terpasang sejak 28 September. OpenAI menyatakan bahwa hasil rekaman pada perangkat tersebut telah dienkripsi.

Rekaman CCTV menunjukkan Alfozan berada di dekat ruang rapat eksekutif beberapa hari sebelum alat itu ditemukan, meskipun ia tidak memiliki akses atau terlibat dalam rapat apa pun di sana. Ruangan tersebut biasa digunakan untuk diskusi penting mengenai informasi teknis, komersial, dan strategis yang sangat rahasia, termasuk penelitian hak milik, rencana produk, peluang bisnis, serta keputusan strategis perusahaan.

Sebelum tanggal 28 September, Alfozan diketahui menggunakan AI atau alat produktivitas internal perusahaan untuk menanyakan alamat gedung OpenAI, ruang rapat, kapasitas ruangan, kalender, serta lokasi pertemuan eksekutif dengan mitra eksternal. Ia juga menggunakan chatbot milik istrinya untuk bertanya tentang pembuatan, penyesuaian, pemasangan, perekaman audio, pengujian, pengaburan, dan akses jarak jauh perangkat. Beberapa pertanyaannya antara lain "membuat perekaman audio kontinu", "menyesuaikan konektivitas Wi-Fi", "meningkatkan audio dan mendengarkan langsung", serta "mengenkripsi kartu SD". Riwayat akun chatbot yang sama bahkan menyebut secara eksplisit alat penyadap yang ditemukan, termasuk custom header dan alamat MAC uniknya.

Bukti lain muncul dari rekaman CCTV pada 5 Oktober yang memperlihatkan Alfozan memasuki ruang rapat eksekutif dan melihat ke belakang televisi tempat alat penyadap ditemukan. Pada hari yang sama, Alfozan meninggalkan tasnya di ruangan berbeda. Petugas keamanan OpenAI membuka tas tersebut dan menemukan dompet berisi kartu identitas Alfozan serta alat perekam audio lain yang mirip dengan barang bukti persidangan.

Jaksa Agung AS Craig Missakian menyatakan bahwa kasus ini merupakan masalah keamanan nasional. "Penangkapan ini menyoroti upaya tanpa henti kami dalam kemitraan dengan FBI untuk mengidentifikasi dan menuntut mereka yang berupaya mencuri teknologi kami, seperti yang dituduhkan dalam pengaduan," ujarnya. Alfozan dijadwalkan menghadiri sidang penahanan di pengadilan federal pada Senin (19/10) di hadapan hakim pengadilan negeri Alex G. Tse.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User