Pemilu Israel Deadlock, Netanyahu dan Eisenkot Sama-sama Gagal Capai 61 Kursi

Hasil pemilu Israel berakhir deadlock karena blok Netanyahu (53 kursi) dan blok Eisenkot (48 kursi) gagal meraih 61 kursi untuk membentuk pemerintahan. Ada empat skenario lanjutan: pemerintahan oposisi, pemerintahan persatuan nasional, pembelotan anggota oposisi, atau pemilu ulang. Para pemimpin partai memiliki waktu 12 minggu untuk mencapai kesepakatan koalisi sebelum pemungutan suara kembali digelar.

Oct 31, 2026 - 04:01
Updated: 9 hours ago
0
Pemilu Israel Deadlock, Netanyahu dan Eisenkot Sama-sama Gagal Capai 61 Kursi
Pemilu Israel Deadlock, Netanyahu dan Eisenkot Sama-sama Gagal Capai 61 Kursi

Penghitungan suara pemilu Israel telah tuntas, namun hasilnya tidak menghasilkan pemenang jelas. Kondisi ini menempatkan Israel pada masa ketidakpastian politik yang berpotensi berlangsung hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Pemilu kali ini terbagi ke dalam dua blok utama. Blok pertama dipimpin partai sayap kanan Likud yang diketuai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Blok kedua dipimpin partai tengah Yashar yang digawangi Gadi Eisenkot. Keduanya sama-sama tidak mencapai ambang batas 61 kursi dari total 120 kursi parlemen Israel yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan.

Berdasarkan laporan CNN, blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, sementara blok Eisenkot meraih 48 kursi. Adapun satu blok lainnya, yakni gabungan partai Arab, berhasil mengantongi 19 kursi. Dengan komposisi ini, tidak ada satu pun blok yang cukup kuat untuk membentuk pemerintahan secara mandiri.

Para pemimpin partai kini memiliki waktu 12 minggu untuk mencapai kesepakatan koalisi. Apabila tenggat tersebut terlewati tanpa kesepakatan, Israel harus kembali menggelar pemungutan suara. Ada sejumlah skenario yang mungkin terjadi untuk keluar dari kebuntuan ini.

Skenario pertama adalah pembentukan pemerintahan oposisi. Secara teoritis, jalur paling pasti bagi oposisi untuk menyingkirkan Netanyahu adalah melalui kerja sama antara partai Yahudi dan Arab. Namun, hambatan terbesarnya justru datang dari dua pemimpin partai sayap kanan di kubu oposisi, yakni mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan mantan Menteri Pertahanan Avigdor Liberman. Keduanya menolak pemerintahan apa pun yang bergantung pada dua partai Arab di parlemen, yaitu Joint List dan Raam, baik sebagai bagian dari koalisi maupun sebagai pendukung dari luar bagi pemerintahan minoritas. Dalam sejarah Israel, hanya ada satu pemerintahan yang melibatkan partisipasi penuh partai Arab, yakni ketika Raam bergabung dalam koalisi delapan partai yang berhasil melengserkan Netanyahu pada 2021, meski koalisi itu runtuh setelah setahun berkuasa.

Skenario kedua adalah pembentukan pemerintahan persatuan nasional. Opsi ini menuntut bubarnya kedua blok untuk membentuk pemerintahan bersama. Partai Likud pimpinan Netanyahu akan terlibat, bersama sejumlah mitra koalisi saat ini dan setidaknya satu partai dari blok oposisi. Netanyahu disebut bersedia melepas Menteri Pertahanan dari kelompok sayap kanan ekstrem, Ben Gvir, tetapi tidak ingin melepas Menteri Keuangan dari kelompok sayap kanan ekstrem, Bezalel Smotrich, serta partai-partai ultra-Ortodoks. Namun, Eisenkot telah menutup peluang untuk duduk bersama Netanyahu karena tidak ingin dicap sebagai pengkhianat oleh warga Israel yang sangat ingin melihat Netanyahu lengser.

Skenario ketiga adalah upaya Netanyahu mendorong anggota partai oposisi atau legislator perorangan untuk membelot. Akan tetapi, keempat pemimpin partai dari blok oposisi, yaitu Eisenkot, Bennett, Liberman, dan Yair Golan, telah menyatakan tidak akan bersedia duduk bersama Netanyahu. Mengingat blok Netanyahu masih kekurangan delapan kursi, membujuk delapan orang untuk membelot menjadi tantangan yang sangat berat.

Skenario keempat adalah kembali menggelar pemilu. Jika tidak ada satu pun langkah tersebut yang membuahkan terobosan, maka pemilihan umum akan kembali diadakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User