Netanyahu Menang Tipis di Pemilu Israel, Kursi PM Justru Ditentukan Partai Arab
Blok Benjamin Netanyahu unggul dengan 53 kursi Knesset, tetapi gagal mencapai ambang 61 kursi untuk membentuk pemerintahan. Partai Arab yang meraih 19 kursi, tertinggi dalam sejarah, kini menjadi penentu arah koalisi. Analis menilai Netanyahu tetap pemenang karena mampu bertahan, meski peluangnya kembali memimpin bergantung pada lobi dan tekanan dari Presiden AS Donald Trump.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berhasil membawa blok politiknya menjadi kekuatan terbesar dalam pemilu yang digelar Selasa (27/10). Namun, keunggulan itu belum cukup untuk mengamankan ambang batas mayoritas guna membentuk pemerintahan baru.
Berdasarkan penghitungan suara hingga Kamis (29/10) yang telah mencakup lebih dari 99 persen surat suara, tidak ada satu pun kubu yang mencapai 61 kursi di Knesset. Blok Netanyahu mengantongi 53 kursi, sementara blok mantan panglima militer Israel Gadi Eisenkot dan partainya Yashyar memperoleh 48 kursi.
Yang menarik dari pemilu kali ini adalah lonjakan dukungan terhadap partai-partai Arab yang meraih 19 kursi, jumlah tertinggi sepanjang sejarah Israel. Partisipasi pemilih warga Arab Israel, kelompok keturunan Palestina yang mencakup sekitar 21 persen populasi, meningkat signifikan dan menjadikan mereka faktor penentu dalam pembentukan pemerintahan berikutnya.
Pemilu ini merupakan yang pertama sejak serangan kelompok milisi Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 warga Israel dan memicu agresi ke Jalur Gaza. Tekanan politik sempat menerpa Netanyahu akibat kritik terhadap kegagalan sistem keamanan di bawah kepemimpinannya, tetapi ia tetap berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas pemilih Yahudi Israel.
Mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, menilai hasil tersebut sebagai kebangkitan politik sang petahana. Menurutnya, kegagalan meraih mayoritas parlemen justru dapat memperkuat kembali dominasi Netanyahu dalam politik Israel. "Mungkin sulit untuk mengatakannya atau melihatnya, tetapi dialah pemenangnya," kata Bushinsky.
Analis regional sekaligus mantan perwira intelijen militer Israel, Danny Citrinowicz, menilai pencapaian terbesar Netanyahu bukan sekadar memenangkan pemilu, melainkan kemampuannya mempertahankan kekuasaan yang hampir menyentuh dua dekade di tengah berbagai tekanan. "Dia menang karena tidak kalah. Dia berhasil bertahan," ujar Citrinowicz seperti dilansir Reuters.
Meski demikian, jalan Netanyahu untuk kembali memimpin tidak mulus. Ia masih menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga Presiden Israel menentukan pihak yang mendapat mandat membentuk pemerintahan. Peluang oposisi menggulingkan Netanyahu juga tidak mudah karena sejumlah calon mitra koalisi dari sayap kanan, seperti Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman, berpotensi menolak bekerja sama dengan partai-partai Arab.
Mantan negosiator perdamaian Timur Tengah Amerika Serikat, Dennis Ross, menilai partai-partai Arab kini memiliki pengaruh politik yang belum pernah dimiliki sebelumnya. "Bangsa Arab belum pernah berada dalam posisi di mana mereka memiliki kekuatan sebesar ini," kata Ross.
Para analis melihat dua kemungkinan utama ke depan, yakni pembentukan pemerintahan persatuan nasional yang lebih luas atau penyelenggaraan pemilu ulang. Bushinsky menilai skenario pemerintahan persatuan nasional paling realistis, terutama apabila Presiden AS Donald Trump mendorong Netanyahu merangkul para pesaing politiknya dan menyingkirkan sejumlah menteri sayap kanan jauh seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.
Sementara itu, Eisenkot berupaya memanfaatkan hasil pemilu untuk menantang legitimasi politik Netanyahu. Ia menilai hasil pemungutan suara menunjukkan masyarakat Israel menginginkan perubahan kepemimpinan dan menyebut Netanyahu kini memimpin pemerintahan transisi yang telah kehilangan kepercayaan publik. Netanyahu sendiri masih menghadapi persidangan kasus dugaan korupsi serta kritik atas penolakan penyelidikan independen terkait kegagalan keamanan dalam serangan Hamas pada 2023.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)