AirNav Indonesia Pamerkan Teknologi Navigasi Berbasis AI di Forum USTDA Amerika Serikat

AirNav Indonesia memaparkan sejumlah inovasi navigasi penerbangan dalam Business Briefing rangkaian Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission USTDA di Arlington, Virginia. Inovasi yang ditampilkan mencakup FF-ICE, penyusunan NOTAM berbasis AI bersama Telkom University, hingga pemantauan gangguan sinyal satelit GNSS. AirNav juga membuka peluang kolaborasi teknologi dengan perusahaan Amerika Serikat.

Oct 31, 2026 - 00:01
Updated: 9 hours ago
0
AirNav Indonesia Pamerkan Teknologi Navigasi Berbasis AI di Forum USTDA Amerika Serikat
AirNav Indonesia Pamerkan Teknologi Navigasi Berbasis AI di Forum USTDA Amerika Serikat

AirNav Indonesia memamerkan sejumlah inovasi teknologi navigasi penerbangan dalam sesi Business Briefing pada rangkaian Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission (RTM) yang digelar United States Trade and Development Agency (USTDA) di Arlington, Virginia, Amerika Serikat, Selasa (27/10). Dalam forum tersebut, AirNav menampilkan berbagai pengembangan yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan operasional pelayanan navigasi di wilayah kepulauan.

Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap menyampaikan bahwa pengelolaan navigasi penerbangan di negara kepulauan menuntut adaptasi teknologi berkelanjutan. Menurutnya, AirNav tidak hanya berfokus menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan atau Communication, Navigation, and Surveillance (CNS), tetapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI).

"Mengelola navigasi penerbangan di negara kepulauan menuntut adaptasi teknologi yang berkelanjutan. Kami tidak hanya berfokus menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan (Communication, Navigation, and Surveillance/CNS) yang ada, tetapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI) guna menjawab tantangan ruang udara yang semakin padat dan dinamis," ujar Zainal dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).

AirNav Indonesia melayani navigasi penerbangan pada dua Flight Information Region (FIR), yakni FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang, dengan luas wilayah pelayanan sekitar 7,79 juta kilometer persegi. Perusahaan ini menangani sekitar 5.000 penerbangan per hari, dengan wilayah pelayanan yang berbatasan langsung dengan 10 FIR negara tetangga. Kondisi itu menjadikan keandalan sistem serta koordinasi lintas batas sebagai kebutuhan penting dalam operasional.

Salah satu inovasi yang ditampilkan adalah sistem Flight and Flow Information for a Collaborative Environment (FF-ICE) untuk mendukung pertukaran informasi penerbangan. Sistem tersebut telah didemonstrasikan dalam APAC TBO Pathfinder Conference di Hanoi, Vietnam, pada 23 Juli 2025. AirNav juga mengembangkan penyusunan NOTAM berbasis AI bersama Telkom University, yang memanfaatkan model bahasa besar untuk membantu mengubah masukan bahasa biasa menjadi format NOTAM terstandar agar penyusunan informasi bagi komunitas penerbangan lebih efisien dan cepat.

Di bidang pemantauan, AirNav memperkenalkan GNSS Radio Frequency Interference Monitoring, sistem untuk memantau gangguan frekuensi radio pada sinyal navigasi satelit secara waktu nyata. Sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi indikasi gangguan, memetakan lokasinya, dan memberikan peringatan guna mendukung pemantauan operasional. Pengembangan lain mencakup EMIRA, sistem manajemen lalu lintas udara terintegrasi dan modular yang dikembangkan secara internal, serta teknologi ADS-B berbasis Internet of Things untuk memperluas cakupan pengamatan penerbangan.

Dalam forum tersebut, Zainal juga menyampaikan rencana pengembangan Remote/Digital Tower, Satellite-Based Augmentation System (SBAS), dan Transponder Landing System (TLS). Remote/Digital Tower diarahkan untuk mendukung pelayanan di bandara dengan kepadatan lalu lintas rendah. Rencana SBAS mencakup riset karakteristik ionosfer wilayah ekuatorial untuk meningkatkan kinerja navigasi satelit, sementara TLS dijajaki sebagai pilihan pendukung pendekatan pendaratan presisi pada bandara dengan kondisi medan atau keterbatasan infrastruktur tertentu.

Peluang kolaborasi yang dibahas mencakup studi kelayakan, riset, uji coba teknologi, serta pengembangan kompetensi personel. Menurut Zainal, forum ini membuka ruang kolaborasi teknis untuk memastikan sistem navigasi nasional selaras dengan perkembangan standar keselamatan penerbangan global. Program RTM sendiri berlangsung pada 26 Oktober-6 November 2026 dengan melibatkan delegasi Indonesia dan Filipina, dan sesi Business Briefing mempertemukan delegasi dengan perusahaan Amerika Serikat untuk membahas kebutuhan pengembangan serta peluang kolaborasi teknologi di bidang keselamatan dan keamanan penerbangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User