Koalisi Netanyahu Keok di Pemilu Israel, 53 Kursi Tak Cukup Bentuk Pemerintahan

Koalisi partai sayap kanan pimpinan Benjamin Netanyahu hanya meraih 53 dari 120 kursi Knesset pada pemilu 27 Oktober, gagal mencapai ambang batas 61 kursi untuk membentuk pemerintahan. Blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot mengamankan 48 kursi, sementara partai-partai Arab memperoleh 20 kursi. Berikut profil partai-partai sayap kanan Israel yang berperan penting dalam politik negara itu.

Oct 31, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0
Koalisi Netanyahu Keok di Pemilu Israel, 53 Kursi Tak Cukup Bentuk Pemerintahan
Koalisi Netanyahu Keok di Pemilu Israel, 53 Kursi Tak Cukup Bentuk Pemerintahan

Koalisi partai sayap kanan yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dipastikan tidak lagi menguasai mayoritas kursi di parlemen (Knesset) usai pemilihan umum 27 Oktober. Hasil akhir pemilu yang diumumkan Jumat (30/10) menunjukkan blok pendukung Netanyahu hanya memperoleh 53 dari total 120 kursi. Perolehan itu belum mencapai ambang batas 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan, meski unggul atas kubu oposisi.

Blok oposisi yang dipimpin tokoh sentris Gadi Eisenkot berhasil mengamankan 48 kursi. Sementara itu, partai-partai Arab mencatat lonjakan suara signifikan dengan meraih 20 kursi. Konfigurasi ini membuat peta politik Israel semakin terfragmentasi dan proses pembentukan koalisi pemerintahan diprediksi berjalan alot.

Israel menganut sistem demokrasi parlementer, di mana warga memilih partai politik untuk duduk di Knesset berdasarkan proporsi suara. Sepanjang sejarahnya, panggung politik Israel didominasi dua partai utama: Partai Buruh yang berhaluan kiri-tengah dan Partai Likud yang berhaluan kanan-tengah. Partai Buruh yang dibentuk pada 1968 melalui penggabungan tiga partai sempat mendominasi selama tiga dekade pertama sebelum menyerahkan kekuasaan kepada Likud pada 1977.

Selama dua dekade berikutnya, kedua partai saling bergantian berkuasa dengan menguasai setengah hingga dua pertiga kursi Knesset. Namun, sejak akhir 1990-an, sejumlah partai kecil mulai meraih pangsa suara nasional yang semakin besar. Partai-partai sayap kanan utama Israel saat ini dikenal berhaluan ultranasionalis dan zionis religius, dengan ciri kuat menentang pembentukan negara Palestina dan mendukung perluasan permukiman di Tepi Barat.

Partai Likud yang didirikan pada 1973 dan kini dipimpin Netanyahu merupakan partai terbesar di Israel. Kemenangan Likud pada pemilu 1977 dan pengangkatan Menachem Begin sebagai perdana menteri menjadi titik balik sejarah politik Israel karena menggulingkan Partai Buruh setelah tiga dekade berkuasa. Secara historis, Likud skeptis terhadap perdamaian dengan Palestina dan mendukung proyek permukiman, meski Begin tercatat sebagai perdana menteri pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Mesir pada 1979.

Partai sayap kanan lain yang berpengaruh adalah Yesh Atid yang didirikan Yair Lapid pada 2012, partai keagamaan Shas yang mewakili kepentingan Yahudi Sephardi dan Mizrahi, serta koalisi sentris Biru dan Putih pimpinan pensiunan jenderal Benny Gantz. Ada pula Yamina yang dipimpin Naftali Bennett, Yisrael Beiteinu yang mewakili warga Israel berbahasa Rusia, Otzma Yehudit pimpinan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir yang dikenal anti-Arab, dan Harapan Baru yang didirikan Gideon Sa'ar pada 2020.

Partai-partai sayap kanan ini memiliki pengaruh politik sangat kuat karena kerap menjadi penentu dalam pembentukan koalisi pemerintahan. Dengan hasil pemilu terbaru, dinamika politik Israel akan sangat bergantung pada kemampuan blok-blok politik menjalin aliansi untuk mencapai ambang batas 61 kursi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User