Kehabisan Bahan Bakar, Kapal Pesiar Mewah Terdampar di Kamboja dan Penumpang Diminta Turun
Kapal pesiar mewah Villa Vie Odyssey terdampar di Sihanoukville, Kamboja, karena operatornya tak mampu membeli bahan bakar imbas lonjakan harga akibat perang AS-Iran. Menteri Pariwisata Kamboja Huot Hak mendatangi kapal untuk menanyakan kondisi 203 penumpang dan 156 awak. Kapten Emanuele Giudice menyebut permintaan turun dari kapal sebagai keputusan berat karena bahan bakar sudah kritis.
Kapal pesiar mewah Villa Vie Odyssey terpaksa berlabuh di Sihanoukville, Kamboja, setelah operatornya tidak sanggup membeli bahan bakar. Kondisi itu membuat Menteri Pariwisata Kamboja Huot Hak mendatangi kapal pada Kamis (19/10) untuk bertemu kapten dan awak serta menanyakan kebutuhan penumpang dan kru.
Menurut laporan Channel News Asia (CNA), kedatangan Huot Hak bertujuan memastikan kondisi kapal sekaligus mencari tahu bantuan apa yang diperlukan selama kapal tertahan. Kapal itu sendiri mulai berlabuh di Kamboja pada Selasa (27/10) setelah perjalanan ditangguhkan.
Villa Vie Residences, operator kapal yang berbasis di Amerika Serikat, menyatakan lonjakan harga bahan bakar yang luar biasa menjadi penyebab utama. Perusahaan menyebut kenaikan itu merupakan buntut perang AS melawan Iran. Biaya bahan bakar bulanan per kabin di sejumlah kawasan Asia dilaporkan melesat dari US$1.800 menjadi US$8.000.
Huot Hak mengaku memahami kekhawatiran yang dialami para penumpang. Menurutnya, situasi ini sangat mencemaskan karena penumpang berada jauh dari rumah dan keluarga mereka.
"Kami memahami betapa mengkhawatirkannya situasi ini, terutama karena dampaknya dirasakan langsung oleh para penumpang yang kini berada jauh dari rumah dan keluarga mereka," kata Huot Hak dalam pernyataan kepada media.
Sementara itu, kapten kapal Emanuele Giudice menyebut keputusan meminta penumpang turun bukan hal mudah. Namun, langkah itu diambil demi kenyamanan seluruh penumpang di tengah keterbatasan bahan bakar.
Giudice menjelaskan, akibat kekurangan bahan bakar, pihaknya harus mematikan salah satu generator, sistem pendingin, dan lampu-lampu yang tidak esensial. Kondisi itu dinilai akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang.
"Oleh karena itu, kami dengan berat hati meminta mereka untuk turun dari kapal karena kondisi persediaan bahan bakar sudah berada di titik kritis," ujarnya.
Saat ini sebanyak 203 penumpang dan 156 awak kapal Odyssey terdampar di Sihanoukville. Kapal sepanjang 200 meter itu telah berlayar selama 755 hari sejak berangkat dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024, dan menawarkan perjalanan keliling dunia ke sekitar 150 negara.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)