Menlu Arrmanatha Ungkap Diplomasi Panjang di Balik Bebasnya 4 Kru MT Honour dari Sandera Somalia
Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mengungkap proses panjang pembebasan empat WNI kru kapal MT Honour 25 yang disandera bajak laut Somalia selama lima bulan. Diplomasi melibatkan Pemerintah Somalia, otoritas Puntland, pemilik kapal, dan negara asal kru lain. Keempat WNI akhirnya bebas pada 29 September dan tiba di Tanah Air.
Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir membeberkan lika-liku upaya pembebasan empat warga negara Indonesia yang menjadi kru kapal MT Honour 25 dari penyanderaan bajak laut Somalia. Keempat WNI tersebut diketahui disandera selama lima bulan sebelum akhirnya berhasil dipulangkan ke Tanah Air.
Arrmanatha menegaskan bahwa proses pembebasan tidak berjalan singkat dan menuntut diplomasi serta koordinasi lintas pihak yang intens. "Sejak awal Kementerian Luar Negeri telah melakukan diplomasi dengan berbagai pihak. Koordinasi kita tidak saja dilakukan dengan Pemerintah Somalia dan pemilik kapal, namun juga dengan pemerintah-pemerintah yang warga negaranya ikut di dalam kru kapal," ujar Arrmanatha usai menyambut kedatangan keempat kru di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/10).
Dalam kesempatan itu, Arrmanatha juga memberikan apresiasi kepada kapten kapal atas kepemimpinannya selama masa penyanderaan berlangsung. Tidak lupa, ia menyampaikan penghargaan kepada keluarga para kru yang sabar menanti kepastian kondisi anggota keluarganya selama hampir enam bulan.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono turut hadir dalam penyambutan tersebut. Sugiono mengungkapkan rasa syukur atas kepulangan empat WNI setelah hampir enam bulan berada dalam penyanderaan. "Setelah melalui perjalanan panjang, saudara-saudara kita bisa kembali dengan selamat ke Tanah Air, ke pangkuan keluarga mereka tercinta," kata Sugiono.
Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Pelindungan WNI dan KBRI Nairobi telah mengupayakan pembebasan kapal MT Honour 25 beserta seluruh krunya sejak 21 April lalu. Pemerintah melakukan koordinasi dengan otoritas dan berbagai pihak di Somalia, sekaligus berkomunikasi dengan perwakilan negara asal kru lainnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil pada 29 September melalui operasi yang dilakukan otoritas Puntland. Selama proses penanganan, Kementerian Luar Negeri bersama Kementerian Perhubungan juga menggelar kegiatan family engagement pada 5-7 Mei, 8-11 Juni, dan 15 September.
Kegiatan itu bertujuan menjaga komunikasi dengan keluarga para kru sekaligus memastikan informasi mengenai perkembangan kasus tersampaikan secara akurat. Kementerian Luar Negeri pun menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Somalia dan otoritas Puntland, Kementerian Perhubungan, Komisi I DPR RI, perwakilan RI terkait, pemilik kapal, pemerintah negara asal kru lainnya, serta seluruh pihak yang mendukung proses pembebasan dan pemulangan para kru.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)