Soumaya-Sarre, Pelajar 18 Tahun Pemicu Demo Besar Pelajar Prancis
Soumaya-Sarre, pelajar 18 tahun dari SMA Jean-Renoir Bondy, memicu gelombang demonstrasi pelajar di Prancis lewat video Instagram yang mengkritik Presiden Macron. Protesnya soal kondisi sekolah memicu aksi lebih dari 250.000 siswa, guru, dan orang tua di 13 kota, dengan 735 dari 3.700 lycee terdampak.
Gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah atas di Prancis terus meluas. Lebih dari 250.000 siswa, guru, dan orang tua turun ke jalan pada Selasa (6/10) untuk menuntut perbaikan sistem pendidikan dan fasilitas sekolah yang memadai. Aksi itu menjadi demonstrasi terbesar sejak protes dimulai lebih dari dua pekan sebelumnya.
Menurut laporan AFP, demonstrasi menyebar setidaknya di 13 kota, mulai dari Brest dan Rennes di bagian barat hingga Strasbourg dan Toulon di bagian timur, termasuk ibu kota Paris. Dari total 3.700 lycee atau SMA di Prancis, sebanyak 735 sekolah dilaporkan terdampak. Aksi berlangsung di sejumlah kota besar seperti Paris, Marseille, Nantes, Lyon, dan Bordeaux.
Polisi antihuru-hara sampai menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan demonstran yang terlibat bentrokan. Situasi itu menandai meningkatnya ketegangan dalam unjuk rasa yang menuntut perbaikan kondisi sekolah.
Di balik gelombang protes tersebut, peran seorang pelajar bernama Soumaya-Sarre menjadi titik awal. Perempuan 18 tahun itu merupakan siswa SMA Jean-Renoir di Bondy, pinggiran kota Paris. Pada Juli lalu, ia lulus dengan predikat cum laude dan melanjutkan studi di Universitas Sorbonne, Paris, dengan spesialisasi sejarah, geopolitik, dan ilmu politik.
Media Prancis, Le Monde, melaporkan bahwa Soumaya awalnya mengunggah video protes terhadap Presiden Emmanuel Macron melalui Instagram. Dengan gaya informal, ia melontarkan seruan, "Hei, Macron, kau sudah keterlaluan!" Video singkat itu kemudian berdampak luas.
Menghadap ponsel pintarnya, Soumaya merangkum rasa frustrasi yang dirasakan sejumlah siswa SMA pada awal tahun ajaran. "Ketika menyangkut memberi tahu kami bagaimana cara berpakaian, negara cepat bertindak, tetapi ketika menyangkut memastikan kondisi belajar yang layak, tiba-tiba tidak ada seorang pun di sekitar," ujarnya dalam video tersebut.
Dalam video lain yang mendapat lebih dari 45.000 like, ia mengecam kekerasan polisi di dekat sebuah sekolah menengah. "Kami lelah harus mengenakan mantel di kelas karena sangat dingin," tambahnya. Video-video itu menarik perhatian pelajar dan mahasiswa, lalu perlahan mendapat dukungan luas hingga membawa mereka ke jalanan sejak September lalu.
Le Monde menyebut video Instagram gadis 18 tahun itu menjadi viral. Sebagai pemenang kompetisi pidato, Soumaya bekerja dengan sebuah kelompok yang mendorong kaum muda dari lingkungan kelas pekerja untuk terlibat dalam politik. Ia dikenal nyaman berbicara di depan umum. Pada 13 Mei lalu, ia memenangkan kompetisi pidato yang diselenggarakan Shoah Memorial, yang mempertemukan siswa SMA dari tiga distrik sekolah di wilayah Paris. Dalam pidatonya, ia mengawali dengan mengutip Beate Klarsfeld, yang bersama suaminya, Serge, melacak penjahat Nazi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)