Rahul Gandhi Tuding KPU Curangi Pemilu, Massa Kepung Ramlila Maidan Desak Ketua Mundur

Ribuan warga India menggelar demonstrasi di New Delhi menuntut Ketua KPU Gyanesh Kumar mundur atas dugaan manipulasi daftar pemilih yang merugikan umat Muslim dan minoritas. Rahul Gandhi menuduh 130 juta nama dihapus demi keuntungan Partai BJP pimpinan Narendra Modi. Polisi memperketat pengamanan dan sempat terjadi kericuhan saat massa berusaha mendobrak barikade.

Nov 02, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0
Rahul Gandhi Tuding KPU Curangi Pemilu, Massa Kepung Ramlila Maidan Desak Ketua Mundur
Rahul Gandhi Tuding KPU Curangi Pemilu, Massa Kepung Ramlila Maidan Desak Ketua Mundur

Gelombang protes kembali melanda India. Ribuan warga memadati New Delhi untuk menuntut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gyanesh Kumar mundur dari jabatannya. Mereka menuding lembaga penyelenggara pemilu itu melakukan kecurangan dengan memanipulasi daftar pemilih demi menguntungkan partai penguasa, Bharatiya Janata Party (BJP), pada Minggu (1/10).

Aksi massa terpusat di lapangan bersejarah Ramlila Maidan. Sejak pagi, demonstran melakukan long march dari pusat kota menuju lokasi. Ratusan personel polisi bersenjata pentungan dan perisai dikerahkan. Petugas juga menutup sejumlah stasiun dan memperketat penjagaan di sekitar area unjuk rasa.

Ketegangan sempat memuncak. Massa yang tertahan barikade berusaha mendobrak dan memicu kericuhan. Aksi ini berlangsung bersamaan dengan kampanye Partai Kongres Nasional India, sebuah pemandangan yang menurut pengamat sebagai hal biasa dalam dinamika politik di negara tersebut.

Salah satu tokoh oposisi yang hadir, Rahul Gandhi, melontarkan tuduhan keras. Politikus Partai Kongres itu mengeklaim KPU telah menghapus 130 juta nama dari daftar pemilih. Menurutnya, penghapusan massal tersebut membuat umat Muslim dan kelompok minoritas lain yang tidak mendukung Modi kehilangan hak suara.

"Pencurian suara ini bukan pencurian biasa. Ini adalah pencurian setiap suara India, ini disebut pengkhianatan," kata Gandhi, seperti dikutip NDTV.

Gandhi bahkan menyeret nama Perdana Menteri Narendra Modi dan Menteri Dalam Negeri Amit Shah. Ia menyebut tanpa keberadaan Gyanesh Kumar, keduanya tidak akan menduduki posisi penting di pemerintahan. Ia juga menyinggung manipulasi daftar pemilih dalam Pemilu Lok Sabha 2024 yang berujung pada penghapusan 15 persen daftar pemilih.

Kericuhan tak hanya terjadi di sekitar barikade. Setelah Gandhi berorasi dan meninggalkan lokasi dengan jip, kemacetan parah melanda. Puluhan bus pengangkut demonstran terjebak, memicu ketegangan dengan pengguna jalan lain. Di lokasi terpisah, gerakan sipil yang digerakkan anak muda Partai Kecoak juga menggelar aksi serupa.

Pemerintah membantah keras tuduhan tersebut. Menteri Kesehatan Jagat Prakash Nadda menilai aksi massa itu sebagai drama yang telah direncanakan dengan cermat. "Apa yang terjadi hari ini di Ramlila Maidan bukanlah tindakan penghormatan terhadap demokrasi," ujarnya kepada Al Jazeera. "Ini adalah konspirasi yang direncanakan untuk menjerumuskan bangsa ke dalam anarki, semuanya atas nama demokrasi."

Sejak akhir September, partai-partai oposisi, organisasi mahasiswa, dan Partai Kecoak memang hampir setiap hari turun ke jalan menuntut Kumar mundur. Rangkaian demonstrasi ini menjadi salah satu krisis politik terbesar sejak Narendra Modi menjabat pada 2014.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User