Inggris Prediksi Perang Eropa Pecah dalam 1.000 Hari, Warga Diminta Mulai Timbun Logistik

Sejumlah negara mengeluarkan panduan darurat bagi warganya untuk menghadapi kemungkinan terburuk seperti perang, serangan siber, cuaca ekstrem, dan wabah penyakit. Inggris meluncurkan kampanye 'Be Ready' dan memprediksi perang bisa pecah di Eropa dalam 1.000 hari. Jerman, Swedia, Prancis, dan Jepang juga memberikan imbauan serupa dengan penekanan pada persediaan logistik dan kesiapsiagaan.

Oct 29, 2026 - 00:01
Updated: 1 day ago
0
Inggris Prediksi Perang Eropa Pecah dalam 1.000 Hari, Warga Diminta Mulai Timbun Logistik
Inggris Prediksi Perang Eropa Pecah dalam 1.000 Hari, Warga Diminta Mulai Timbun Logistik

Pemerintah di sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipatif dengan mengeluarkan panduan darurat bagi warganya. Langkah ini menyusul kekhawatiran akan berbagai situasi terburuk, mulai dari perang, serangan siber, cuaca ekstrem, hingga wabah penyakit. Warga diimbau untuk menyiapkan logistik dan persediaan makanan guna menghadapi kemungkinan tersebut.

Inggris menjadi salah satu negara yang paling vokal. Pekan lalu, pemerintah meluncurkan kampanye bertajuk "Be Ready" yang mengimbau warga menyiapkan persediaan makanan, air, dan kebutuhan pokok untuk tiga hari. Kampanye ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa bencana alam, konflik bersenjata, dan keadaan darurat lain kian sering terjadi.

Pemerintah Inggris merinci barang-barang yang perlu ada di rumah, seperti makanan tidak mudah rusak untuk tiga hari, sembilan liter air minum kemasan per orang, produk kebersihan, pakaian hangat, kantong tidur, selimut, hingga kotak P3K. Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting bahkan memprediksi perang bisa pecah di Eropa dalam 1.000 hari ke depan atau sekitar hampir tiga tahun lagi.

Dalam tulisannya di The Telegraph pada Sabtu (24/10), Streeting menyebut bahwa musuh-musuh Inggris akan bersiap menyerang pada 2030. Menurutnya, Inggris dan aliansi NATO hanya memiliki waktu tiga tahun untuk melakukan persiapan. "Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Hal yang telah berubah adalah kapasitas mereka. Menjelang tahun 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk melancarkan serangan. Hal ini memberi kita waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan meraih kemenangan," tulis Streeting.

Jerman tak ketinggalan. Pemerintahnya menyarankan warga menyimpan persediaan darurat untuk kebutuhan 10 hari, termasuk dua liter cairan per orang setiap hari. "Selain skenario perang, terdapat pula berbagai krisis di masa damai yang bisa memicu kekurangan pangan dan hambatan dalam rantai pasokan," demikian pernyataan resmi Jerman. Contohnya termasuk wabah penyakit pada hewan atau kecelakaan serius pada instalasi teknis berskala besar.

Swedia juga mewanti-wanti warganya soal potensi konflik di wilayah mereka. Badan Pertahanan Sipil dan Ketahanan Swedia menyatakan, "Perang sedang berlangsung di sudut dunia kita, dan situasi keamanan saat ini merupakan yang paling serius sejak Perang Dunia Kedua." Mereka juga menyoroti ancaman teroris, serangan siber, dan penyebaran informasi menyesatkan yang digunakan untuk mencelakai serta mempengaruhi masyarakat. "Serangan bersenjata terhadap Swedia tak bisa dikesampingkan," lanjut pernyataan itu.

Prancis memiliki panduan serupa dengan menyebut 72 jam pertama sebagai "periode penentu." Pemerintah menyarankan warga menyediakan kebutuhan pokok seperti makanan, air, obat-obatan, dan uang tunai. Mereka juga merekomendasikan tas siaga berisi fotokopi dokumen, kunci rumah dan mobil cadangan, hingga permainan untuk mengisi waktu. Strategi ini menekankan solidaritas dan mengajak masyarakat tetap berkomunikasi dengan orang terkasih, menolak rumor dan disinformasi, serta mempertimbangkan menjadi sukarelawan cadangan atau bergabung dengan organisasi perlindungan sipil.

Sementara itu, Jepang merekomendasikan warganya menyediakan makanan hingga air minum menyusul kekhawatiran bencana alam. Bencana yang dimaksud mencakup gempa Lembah Laut Nankai, gempa tepat di bawah ibu kota, gempa dahsyat di dekat Palung Jishima dan Palung Jepang, serta letusan Gunung Fuji. Imbauan ini disampaikan karena jika jalan dan jaringan komunikasi terputus akibat bencana besar, kedatangan petugas penyelamat dan bantuan logistik dapat tertunda.

Dalam tayangan Fuji TV, Menteri Pencegahan Bencana Hosono Goshi meminta warga menyediakan logistik untuk beberapa hari. "Mohon persiapkan setidaknya tiga hari, dan kalau bisa, seminggu," kata Goshi. "Mohon siapkan makanan, air, toilet portabel, sehingga Anda bisa tinggal di rumah meski tanpa dukungan pemerintah," lanjutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User