Australia Peringatkan Lonjakan Kekuatan Militer China, Desak ASEAN Pererat Kerja Sama Pertahanan
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menilai peningkatan kekuatan militer China menimbulkan tekanan di Asia Tenggara. Ia mendesak sekutu dan mitra mempererat kerja sama pertahanan, termasuk melalui kelompok informal Squad bersama Jepang, AS, dan Filipina, guna menjaga stabilitas kawasan.
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menyoroti dampak peningkatan kekuatan militer China terhadap kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan tekanan yang perlu direspons bersama oleh negara-negara di kawasan beserta para sekutu dan mitra.
Pernyataan itu disampaikan Marles kepada wartawan di sela-sela pertemuan para menteri pertahanan Asia Tenggara di Filipina pada Kamis (29/10). Ia menilai apa yang terjadi saat ini merupakan peningkatan kekuatan militer konvensional terbesar yang pernah dilihat dunia sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua.
Marles menyoroti bahwa China belum memberikan penjelasan mengenai peningkatan kekuatan militernya. Menurut dia, situasi itu menimbulkan tekanan bagi negara-negara di kawasan, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi Australia.
Ia menegaskan bahwa Australia bergantung pada keberlangsungan tatanan internasional berbasis aturan untuk menjaga kepentingan dan keamanan nasional. Bagi negara kekuatan menengah seperti Australia, aturan internasional menjadi landasan yang memberi ruang untuk bertindak.
Dalam konteks kawasan, China selama ini mengerahkan ratusan kapal penjaga pantai, kapal angkatan laut, dan kapal lainnya untuk berpatroli di Laut China Selatan. Beijing mengklaim hampir seluruh perairan tersebut, meski klaim itu bertentangan dengan putusan internasional yang menyatakan tidak ada dasar hukum.
Ketegangan juga tercermin dari protes Australia pada Juli lalu terhadap uji coba rudal China yang berkemampuan nuklir di Pasifik Selatan. Canberra menilai peluncuran tersebut sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas kawasan.
Meningkatnya sikap agresif dan militerisasi pulau-pulau buatan di Laut China Selatan mendorong Australia dan Amerika Serikat memperkuat kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara Asia Tenggara. Pada pertemuan Kamis (29/10), Marles mengaku bertemu dengan kelompok pertahanan informal yang dikenal sebagai Squad, terdiri dari Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Filipina.
Keempat negara itu berkomitmen meningkatkan koordinasi kebijakan pertahanan. Marles menilai tantangan dan tekanan yang dihadapi di kawasan tersebut dipahami dengan baik oleh keempat negara. Ia menambahkan, negara-negara di kawasan perlu mempererat hubungan dengan sekutu dan tetangga untuk menjaga stabilitas regional.
Filipina, yang menjadi mitra keamanan dekat Australia, berulang kali terlibat konfrontasi dengan China di Laut China Selatan. Pemerintah Filipina bahkan menyatakan kehadiran kapal militer dan penjaga pantai China di wilayah sengketa hampir berlipat ganda pada September dibandingkan periode sebelumnya, sebagaimana disampaikan Manila pada awal Oktober.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)