Harga Ayam dan Telur Anjlok, 4,8 Juta Peternak Disebut Terancam Bangkrut
Mentan Andi Amran Sulaiman mengungkap sekitar 4,8 juta peternak terancam bangkrut karena harga ayam dan telur di tingkat produsen anjlok, sementara harga di konsumen tetap tinggi. Pemerintah menduga ada permainan harga oleh perantara dan telah menyurati Kapolri untuk menelusuri dugaan tersebut.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti kondisi memprihatinkan yang dialami sekitar 4,8 juta peternak ayam dan telur di Indonesia. Harga jual di tingkat produsen disebut anjlok hingga berada di bawah harga acuan pemerintah, sementara harga yang dibayar konsumen justru tetap tinggi. Kondisi ini dinilai sebagai anomali yang mengancam keberlangsungan usaha para peternak.
Amran mengungkapkan bahwa ribuan peternak sebelumnya menggelar demonstrasi karena harga jual hasil ternak mereka tertekan. Di tingkat produsen, harga telur dan ayam berkisar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu, sedangkan di tingkat konsumen bisa mencapai Rp40 ribu hingga Rp45 ribu. Selisih harga yang signifikan itu diduga kuat melibatkan peran perantara atau middleman yang memainkan harga.
"Ini bangkrut ini. 4,8 juta yang berteriak. Bukan lagi inflasi, berteriak, bangkrut. Ini pemerintah kita harus turun," kata Amran dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Senin (12/10).
Menurut Amran, persoalan tersebut telah dibahas bersama pihak terkait selama sekitar tiga minggu, termasuk setelah aksi demonstrasi peternak pada 9 Oktober lalu di sejumlah daerah. Kementerian Pertanian juga telah menyurati Kapolri Suyudi Ario Seto untuk berkoordinasi menangani dugaan permainan harga di rantai distribusi.
Pemerintah, lanjut Amran, telah berupaya menyerap hasil produksi peternak melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, langkah itu dinilai belum menyelesaikan persoalan harga. Pembangunan industri pakan juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang, meski membutuhkan waktu.
Di sisi lain, pasokan jagung untuk pakan ternak turut menjadi perhatian. Peternak mengeluhkan distribusi jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang tersendat sehingga sejumlah kandang tidak beroperasi penuh. Kebutuhan jagung diperkirakan mencapai 223 ribu ton hingga Januari, sementara sisa stok SPHP di Perum Bulog disebut hanya sekitar 30 ribu ton.
Amran memastikan pemerintah masih memiliki alokasi jagung yang akan disalurkan sesuai kesepakatan sebelumnya. "SPHP kurang lebih 40 ribu ton. Kita akan salurkan sesuai kesepakatan kemarin. Kita selesaikan, masih ada jatah 150 ribu ton," ujarnya.
Ia juga menyoroti perbedaan harga pakan antara BUMN pangan ID Food dan pihak swasta. Menurut Amran, ID Food menjual pakan dengan harga Rp8.630 per kilogram, sedangkan harga di swasta mencapai Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah justru menjadi sasaran demonstrasi ketika menjual pakan dengan harga lebih murah.
Amran menegaskan pemerintah akan berkolaborasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk menyelesaikan persoalan ini. Menurutnya, persoalan harga pangan tidak akan selesai apabila dugaan permainan di rantai distribusi tidak ditangani. Pemerintah perlu menelusuri penyebab harga di tingkat produsen dan konsumen bergerak berlawanan, baik pada komoditas ayam, telur, maupun beras.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)