Gambut Indonesia di Titik Kritis, Pakar Peringatkan Ancaman Bencana Berulang

Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Tanjungpura Gusti Zakaria Anshari menilai lahan gambut Indonesia semakin kritis akibat pengeringan dan alih fungsi lahan masif. Ekosistem yang terbentuk ribuan tahun itu kehilangan kemampuan menyimpan air, sehingga memicu kebakaran dan banjir. Ia memperingatkan potensi bencana berulang jika kerusakan gambut terus berlanjut.

Oct 22, 2026 - 12:03
Updated: 16 hours ago
0
Gambut Indonesia di Titik Kritis, Pakar Peringatkan Ancaman Bencana Berulang
Gambut Indonesia di Titik Kritis, Pakar Peringatkan Ancaman Bencana Berulang

Kerusakan lahan gambut di Indonesia kian mengkhawatirkan. Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Tanjungpura Gusti Zakaria Anshari menilai ekosistem gambut yang terbentuk ribuan tahun itu kini berada dalam kondisi kritis setelah mengalami pengeringan dan alih fungsi lahan secara masif. Dampaknya tidak hanya memperparah kebakaran hutan dan kabut asap, tetapi juga meningkatkan ancaman banjir.

Menurut Gusti, gambut sejatinya bukan sekadar lahan, melainkan ekosistem hutan berkayu. Namun, sejak era pembangunan, hutan gambut mulai ditebang setelah hutan lahan kering habis. Pada tahun 1970-an, gambut kemudian dibuka untuk proyek transmigrasi karena dianggap sebagai tanah marginal atau sub-optimal yang murah. Untuk mengeringkan lahan, dibuat kanal drainase besar-besaran.

Akibatnya, gambut yang kering dan ditumbuhi tanaman seperti pakis menjadi sangat mudah terbakar. Gusti menjelaskan kebakaran gambut bersifat kebakaran dalam tanah sehingga sulit dipadamkan dan menghasilkan kabut asap yang mencemari udara serta berdampak pada kesehatan. Kondisi ini, katanya, hampir terjadi setiap tahun, baik saat El Nino maupun tidak.

Ahli gambut tropis yang juga penulis Laporan Penilaian Keenam IPCC itu menyebut kerugian akibat kebakaran gambut sangat besar. Biaya operasional helikopter pemadam bisa mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta per jam, belum termasuk pasukan darat. Kerugian jangka panjang terhadap kesehatan dan kualitas sumber daya manusia generasi mendatang juga sulit diukur.

Gusti menegaskan perubahan fungsi gambut telah menghilangkan perannya sebagai penyimpan air dan penjaga biodiversitas. Kelapa sawit yang ditanam di lahan gambut pun mulai mengering karena tidak ada lagi air tersimpan. Menurut laporan UNEP, kerusakan ini bersifat irreversible atau tidak dapat dikembalikan, sebab lapisan gambut hanya bertambah sekitar setengah milimeter per tahun.

Ia memperingatkan situasi ini murni akibat perbuatan manusia atau antropogenik, bukan faktor alam. Kelembagaan dinilai belum mampu mengatasi kebakaran gambut tanpa bantuan hujan. Ke depan, Indonesia berpotensi menghadapi dua ancaman sekaligus: kekeringan panjang yang memicu kebakaran, serta hujan deras yang datang tidak merata dan berujung banjir karena gambut tak lagi mampu menyerap air.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut, dampaknya sangat berat. Selain menghadapi bencana kebakaran dan banjir, mereka berisiko kehilangan mata pencarian yang selama ini bergantung pada ekosistem gambut. Gusti menilai belum ada solusi pasti, dan yang bisa dilakukan saat ini hanyalah mengurangi kerusakan serta menjaga sisa gambut yang ada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User