Pecahan Roket China Ditemukan di Kebun Sawit Sampit, Ini Risiko yang Mengintai
Pecahan roket China ZhuQue-2E diduga jatuh di kebun sawit Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dan telah diamankan di Lanud Iskandar Pangkalan Bun. BRIN menyebut benda ini sampah antariksa yang bisa berisiko menghancurkan objek tertimpa hingga mengganggu penerbangan, sementara penanganannya diatur lewat regulasi internasional dan asuransi peluncuran.
Pecahan roket China ZhuQue-2E (ZQ-2E) diduga jatuh di kawasan perkebunan sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Benda yang tergolong sampah antariksa itu kini telah diamankan untuk diidentifikasi lebih lanjut.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan, sampah antariksa merupakan bagian roket peluncur atau satelit yang sudah tidak berfungsi dan masih mengorbit Bumi atau dalam perjalanan menuju orbit. Jumlahnya saat ini mencapai belasan ribu, dan karena hambatan udara, sampah di orbit rendah semakin lama semakin turun ketinggiannya.
Menurut Thomas, roket ZhuQue-2E menjalankan misi peluncuran 10 satelit pada 14 Oktober 2026. Namun, badan roket tersebut terbakar dan pecah. Analisis orbit menunjukkan kesesuaian bahwa bagian yang ditemukan di Kalimantan kemungkinan besar merupakan salah satu pecahannya. Benda itu telah dibawa ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun untuk identifikasi.
Berdasarkan analisis orbit dan laporan warga yang mendengar suara gemuruh, komponen berupa kepingan logam besar terkoyak itu diperkirakan jatuh sekitar pukul 17.36 WIB pada Minggu (18/10), sebelum ditemukan keesokan paginya (19/10).
ZhuQue-2E bukan sampah antariksa China pertama yang jatuh di Kalimantan. Sebelumnya, pecahan roket Changzheng-8 ditemukan di Kalimantan Tengah pada 2021, serta sisa roket Changzheng-5B di Kalimantan Barat pada 2022. Peristiwa serupa juga pernah terjadi di Sumatera Barat (2017), Madura (2016), Bengkulu (2003), Lampung (1988), dan Sulawesi (1981).
Thomas menyebut prosedur penanganan yang melibatkan koordinasi antarnegara cukup rumit, sehingga sampah antariksa biasanya hanya disimpan aparat setempat atau dijadikan materi edukasi bagi masyarakat. Ia mencontohkan Kanada yang menuntut Uni Soviet karena sampah antariksa bermuatan nuklir jatuh di wilayahnya.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) Robertus Heru Triharjanto mengingatkan, sampah antariksa bisa berukuran besar, padat, berat, dan tajam sehingga berpotensi menghancurkan objek yang tertimpa atau landasannya. Jatuhnya benda ini juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan karena berisiko bertabrakan dengan pesawat yang melintas, sehingga biasanya dilakukan koordinasi dengan otoritas lalu lintas udara melalui NOTAM.
Heru menjelaskan, sebagian besar satelit modern di orbit rendah dirancang terbakar habis di atmosfer saat masuk kembali ke gravitasi Bumi. Namun, material tertentu yang lebih tahan panas bisa mencapai permukaan Bumi. Kerugian akibat jatuhnya komponen roket telah diatur dalam regulasi internasional, termasuk kewajiban asuransi peluncuran satelit atas kerugian pihak ketiga sesuai Liability Convention yang merupakan bagian dari Outer Space Treaty.
Heru menambahkan, temuan sampah antariksa di Indonesia dapat dilaporkan ke polisi dan BRIN. Polisi akan menjalankan prosedur pengamanan hingga staf BRIN datang melakukan investigasi. Jika benda harus dipindah karena alasan keamanan atau keselamatan, masyarakat diminta mengambil foto yang cukup sebagai bukti klaim asuransi kepada pemilik benda antariksa.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)