Demo Antikemiskinan Meluas, Italia hingga Belgia Dilanda Bentrokan dan Penjarahan
Gelombang demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan lonjakan harga bahan bakar meluas dari Prancis ke Italia, Albania, dan Belgia. Di Italia, aksi di Milan, Turin, Bologna, dan Roma berujung bentrokan dengan puluhan orang ditahan. Albania dilanda kerusuhan lima hari berturut-turut dengan bom molotov dan penjarahan, sementara di Brussel polisi menembakkan gas air mata dan meriam air.
Gelombang demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan lonjakan harga bahan bakar kian meluas di Eropa. Setelah Prancis dilanda aksi besar-besaran, unjuk rasa serupa menjalar ke sejumlah kota di Italia pada Sabtu (17/10), terutama di Milan, Turin, Bologna, dan Roma.
Di ibu kota Roma, serikat pekerja CGIL menggelar aksi besar sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni. Sekretaris Jenderal CGIL, Maurizio Landini, mengumumkan bahwa serikat tersebut akan kembali menggelar demonstrasi pada 20 November mendatang, bertepatan dengan aksi mogok mahasiswa berskala Eropa yang sudah dijadwalkan pada hari yang sama.
Aksi di Bologna berlangsung ricuh. Sekelompok kecil demonstran muda yang menutupi wajah terlibat bentrokan dengan polisi dengan melemparkan batu dan botol. Petugas membalas menggunakan tongkat pemukul dan gas air mata. Di Turin, para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang menyasar National Future, partai berhaluan kanan jauh yang dipimpin mantan jenderal Roberto Vannacci.
Kerusuhan juga pecah di Milan. Demonstrasi menentang krisis biaya hidup berujung bentrokan di Piazza del Duomo, pusat kota. Sejumlah demonstran bertutup wajah melemparkan alat pemadam kebakaran, bom asap, dan meja kafe ke arah polisi, yang membalas dengan tongkat pemukul dan meriam air. Menurut laporan awal, beberapa orang terluka, termasuk seorang perempuan muda dan seorang petugas polisi yang mengalami luka di kepala. Sebanyak 50 orang telah ditahan selama demo berlangsung. Wisatawan dan warga di pusat kota bergegas mencari perlindungan di toko-toko dan gedung apartemen sekitar alun-alun.
Di Albania, situasi di pusat Kota Tirana masih bergejolak dan tidak terkendali selama lima hari berturut-turut. Bentrokan antara polisi dan demonstran terus terjadi, disertai perkelahian jarak dekat, kebakaran di jalanan dan bangunan, banyak korban luka, aksi vandalisme, serta penjarahan. Petugas RENEA, pasukan intervensi khusus Albania, membentuk barikade di sekitar kantor perdana menteri, yang justru semakin memperkeruh situasi yang sudah tegang.
Setelah dipukul mundur dari kantor Perdana Menteri Edi Rama, para demonstran bergerak menuju Mahkamah Agung dan melemparkan bom molotov. Aksi itu membakar sejumlah kantor, membahayakan bangunan di sekitarnya, serta menghanguskan sebuah mobil. Kelompok demonstran lain melemparkan bom api ke arah polisi di jalan raya utama dan pintu masuk bekas hotel bersejarah yang kini digunakan sebagai kantor Bank Albania. Mereka juga melemparkan batu dan pecahan marmer hingga memecahkan jendela bangunan. Tak jauh dari lokasi, sekelompok demonstran bertudung menerobos pintu masuk dan memecahkan jendela kantor cabang OTP Bank sebelum membakar bangunan tersebut.
Para demonstran menuntut pengunduran diri Rama sekaligus memprotes kondisi pengajaran di universitas dan biaya pendaftaran mahasiswa. Menteri Kehakiman Toni Gogu mengecam serangan tersebut. Ia menyatakan bahwa sasaran aksi itu bukanlah pemerintah, melainkan dua lembaga independen yang melayani negara dan warganya. Menurut jurnalis AFP di lokasi, polisi untuk pertama kalinya sejak demonstrasi dimulai menembakkan peluru karet. Berdasarkan hukum Albania, peluru karet hanya boleh digunakan dalam demonstrasi pada kondisi ekstrem.
Di Belgia, ratusan orang yang sebagian besar anak muda turun ke jalan di Brussel pada Sabtu. Sebagian di antaranya terlibat bentrokan dengan polisi di tengah kerusuhan yang turut dipicu aksi protes di negara tetangga, Prancis. Gerakan pelajar Belgia ini memprotes kenaikan biaya pendidikan serta berbagai reformasi yang dikhawatirkan membuat pendidikan tinggi semakin sulit diakses. Banyak demonstran mengenakan penutup wajah dan meneriakkan slogan-slogan antifasis. Menurut saksi mata Reuters, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air, sementara para demonstran membalikkan sebuah mobil. Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin menyatakan melalui unggahan di X bahwa apa yang terjadi di Brussel bukan lagi sekadar aksi protes, dan menegaskan segala cara yang diperlukan akan digunakan untuk memulihkan ketertiban dari para perusuh.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)