Musim Hujan Jatim Cuma 4 Bulan, BMKG Peringatkan Ancaman Bencana di Sejumlah Daerah

BMKG memprediksi musim hujan di Jawa Timur hanya berlangsung empat bulan, Desember 2026 hingga Maret 2027, akibat kemarau yang lebih panjang. Meski singkat, curah hujan tinggi yang terkonsentrasi berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. BMKG meminta pemerintah daerah di Malang, Bojonegoro, Jombang, Nganjuk, dan Banyuwangi meningkatkan mitigasi sejak dini.

Oct 30, 2026 - 04:01
Updated: 1 day ago
0
Musim Hujan Jatim Cuma 4 Bulan, BMKG Peringatkan Ancaman Bencana di Sejumlah Daerah
Musim Hujan Jatim Cuma 4 Bulan, BMKG Peringatkan Ancaman Bencana di Sejumlah Daerah

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di Jawa Timur tahun ini tidak akan berlangsung lama. Periode hujan diperkirakan hanya sekitar empat bulan, yakni mulai Desember 2026 hingga Maret 2027. Meski demikian, ancaman bencana hidrometeorologi tetap harus diwaspadai.

Kepala BMKG Kelas I Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan, singkatnya musim hujan dipicu oleh masa kemarau yang berlangsung lebih panjang, mundur sekitar dua bulan dari kondisi normal. Kondisi ini membuat periode hujan menjadi lebih pendek dari biasanya.

Namun, menurut Taufiq, durasi yang lebih singkat bukan berarti risiko bencana ikut berkurang. Curah hujan tinggi yang terkonsentrasi dalam waktu singkat justru berpotensi memicu bencana di sejumlah wilayah rawan.

"Karena curah hujannya sangat pendek. Ibaratnya, yang tadinya satu liter dengan takaran satu liter, sekarang takarannya menjadi kecil atau empat bulan," kata Taufiq saat dikonfirmasi, Kamis (29/10).

BMKG mencatat sejumlah daerah yang perlu melakukan penanganan dan mitigasi sejak dini, di antaranya Malang, Bojonegoro, Jombang, kawasan dataran tinggi Nganjuk, hingga Banyuwangi. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari 2027.

Karena itu, Taufiq mengimbau pemerintah daerah di Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim hujan singkat tersebut. Langkah siap siaga dinilai perlu disusun lebih awal melalui rapat koordinasi lintas sektor.

Koordinasi tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi kerja yang konkret bagi setiap sektor. Sektor pertanian perlu menyiapkan strategi penanaman yang sesuai dengan kondisi cuaca, sementara BPBD dan relawan diminta memperkuat kesiapsiagaan di lapangan.

"Harus ada antisipasi, jangan sampai nanti kalau sudah kejadian, baru kita tersadar dan mencari pengarahan masing-masing," tegas Taufiq.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User