BMKG Sebut Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, Warga Tetap Diminta Waspada
BMKG melaporkan asap karhutla yang sempat masuk ke Jabodetabek pada 16 Oktober kini berangsur menjauh akibat perubahan arah angin. Meski tidak memengaruhi kualitas udara permukaan secara signifikan, warga diminta tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara. BMKG mencatat 478 titik panas dengan Sumatera Selatan terbanyak, sementara sejumlah wilayah masih berpotensi kering hingga 24 Oktober.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat menyusup ke wilayah Jawa bagian barat pada Jumat (16/10) kini berangsur menjauh. Pantauan citra satelit sempat mendeteksi asap masuk ke kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), tetapi keberadaannya tidak bertahan lama dan tidak sampai memengaruhi kualitas udara di permukaan.
Hasil pemantauan BMKG pada Sabtu (17/10) pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB menunjukkan sebaran asap karhutla di wilayah tersebut bergerak menjauh secara bertahap seiring perubahan arah dan pergerakan angin. Sekretaris Utama BMKG Guswanto menegaskan keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak selalu berarti terjadi peningkatan konsentrasi polutan di permukaan, sehingga masyarakat tidak perlu panik.
"BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing. BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terkini sebagai dasar bagi masyarakat untuk mengambil langkah antisipatif," kata Guswanto, dikutip dari laman resmi BMKG, Sabtu (17/10).
Berdasarkan indikator pencemaran udara dari konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kemayoran, nilainya berkisar 46,7-109,7 mikrogram per meter kubik atau berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Sementara data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara Jakarta bervariasi, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis. ISPU di Marunda tercatat 49 (baik), Tanah Abang 60 (sedang), Kelapa Gading 103 (tidak sehat), Menteng 116 (tidak sehat), dan Kebun Jeruk 120 (tidak sehat).
BMKG mencatat sebaran asap karhutla di wilayah lain masih terpantau di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua. Asap bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Pada pemantauan 16 Oktober 2026 pukul 00.00-23.59 WIB, BMKG mendeteksi 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sumatra Selatan mencatat jumlah terbanyak, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur 89 titik, Papua Selatan 63 titik, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing 26 titik.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyebut jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah menurun signifikan dibandingkan pemantauan 15 Oktober 2026, dari 485 titik menjadi 26 titik. "Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai," ujarnya.
BMKG memprakirakan sejumlah wilayah seperti Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan masih mengalami kondisi relatif kering pada 17-24 Oktober 2026 seiring rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan. Peluang pertumbuhan awan hujan lebih dari 70 persen berpotensi muncul di Sumatra bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.
Pola angin pada lapisan atmosfer 925-500 hektopaskal secara umum didominasi angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5-34 knot. Pola tersebut memengaruhi arah pergerakan dan penyebaran asap karhutla sekaligus berperan dalam proses pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)