Bandara Riyadh Kembali Ditutup, Houthi Ancam Perluas Serangan ke Arab Saudi
Arab Saudi memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh setelah serangan rudal yang diduga dilakukan Houthi menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Houthi mengancam akan meningkatkan serangan, sementara kecaman datang dari berbagai pihak termasuk PBB dan Uni Eropa. Serangan ini juga memicu kekhawatiran stabilitas kawasan dan pasar minyak global.
Arab Saudi kembali memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menyusul serangan rudal yang diduga dilancarkan kelompok Houthi pada Sabtu (10/10). Penutupan diperpanjang hingga setidaknya pukul 21.00 waktu setempat pada Minggu (11/10). Serangan tersebut menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Korban meninggal berasal dari berbagai negara. Otoritas Arab Saudi menyebut empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Palestina, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, dan Sudan. Sejumlah rumah sakit setempat masih menangani korban luka akibat insiden tersebut.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang beroperasi di Yaman menyalahkan kelompok Houthi atas serangan itu. Insiden ini menjadi serangan paling mematikan di negara-negara Arab Teluk sejak perang Iran dimulai, dan merupakan yang terbaru dari serangkaian serangan terhadap bandara tersebut dalam sepekan terakhir.
Kelompok Houthi mengancam akan meningkatkan serangan. Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyebut bandara-bandara Arab Saudi sebagai target dan memperingatkan masyarakat untuk menanggapi peringatan mereka dengan serius. "Setiap orang harus menanggapi peringatan kami dengan serius," kata Saree, seperti dilansir AP News.
Serangan itu menuai kecaman dari sejumlah pemimpin dan negara, termasuk Irak, Lebanon, dan Suriah. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga mengecam. Von der Leyen menyatakan serangan oleh proksi Iran berisiko memperburuk kekerasan di kawasan. "Serangan oleh proksi Iran mendorong kawasan ini ke dalam pusaran kekerasan," tulisnya di media sosial X pada Minggu (11/10). Ia menambahkan serangan tersebut mengganggu pusat transportasi dan energi global yang penting.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap kelompok pemberontak tersebut. Di tengah meningkatnya ketegangan, Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi menyatakan 91 warga Yaman tewas dan 168 lainnya terluka akibat serangan koalisi pimpinan Arab Saudi selama lima pekan terakhir. Menurut kementerian tersebut, sekitar 60 persen korban meninggal merupakan perempuan dan anak-anak.
Serangan terhadap bandara Riyadh memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan pasar global. Arab Saudi merupakan eksportir minyak mentah terbesar di dunia, dan rangkaian serangan dalam konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak serta mengguncang pasar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)