Wabah Ebola di RD Kongo Diduga Telah Menyebar Sejak Januari
Sebuah laporan di jurnal Science mengungkap bahwa wabah Ebola di RD Kongo kemungkinan telah dimulai sejak Januari di kota Mongbwalu, jauh sebelum terdeteksi resmi pada Mei. Peneliti mewawancarai sekitar 100 orang dan menemukan bukti penyebaran luas. Hingga akhir Juli, tercatat lebih dari 3.530 kasus dan 1.556 kematian, menjadikannya wabah Ebola terbesar kedua di dunia.
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) diduga telah berlangsung sejak Januari, jauh sebelum otoritas kesehatan resmi mengidentifikasinya. Dugaan ini muncul dari laporan yang diterbitkan di jurnal Science, yang menunjukkan bahwa penyakit telah menyebar luas di sebuah kota tambang terpencil bernama Mongbwalu, di Provinsi Ituri bagian timur.
Tim peneliti mewawancarai sekitar 100 orang di Mongbwalu dan sekitarnya, termasuk perawat, tokoh masyarakat, penyintas, keluarga korban, pembuat peti mati, dan penjaga pemakaman. Dari penelusuran tersebut, mereka menyimpulkan bahwa epidemi kemungkinan besar mulai terpantik pada Januari, atau bahkan lebih awal, di pinggiran kota. Seorang pasien yang mencari perawatan mungkin telah membawa virus ke kota dari daerah perdesaan.
Kementerian Kesehatan di Kinshasa baru mengidentifikasi penyakit tersebut sebagai Ebola sekitar bulan Mei. Saat itu, wabah yang meluas dan sulit dikendalikan sudah telanjur berlangsung. Pada Jumat (31/7), wabah Ebola terbaru di RD Kongo tercatat sebagai yang terbesar kedua di dunia berdasarkan jumlah infeksi terdokumentasi, dengan lebih dari 3.530 kasus dan 1.556 kematian sejak diumumkan pada pertengahan Mei.
Jumlah kasus terkonfirmasi itu telah melampaui sekitar 3.470 kasus yang tercatat dalam wabah Ebola ke-10 di RD Kongo antara Agustus 2018 hingga Juni 2020. Para peneliti juga mengidentifikasi lebih dari 500 kasus suspek antara pertengahan Januari dan 15 Mei.
Salah satu rantai penularan yang terungkap bermula dari seorang perempuan berusia 50 tahun yang meninggal pada 25 Januari setelah muntah darah. Ibunya meninggal enam hari kemudian, sementara suaminya sempat sakit tetapi selamat. Manuel Albela, ahli epidemiologi dari Doctors Without Borders (MSF) yang bekerja di kota tersebut, mengatakan bahwa jika wabah dapat dikendalikan di Mongbwalu, akan jauh lebih mudah untuk mengatasinya.
Untuk memperkirakan kasus Ebola, tim peneliti menelusuri rumah tangga yang memiliki sedikitnya dua kematian dalam 21 hari dengan gejala yang sesuai. Mereka juga memeriksa foto, pesan WhatsApp, catatan dokter, dan biografi pemakaman korban. Semua petunjuk tersebut mengarah pada penyebaran Ebola yang luas.
Wabah kini telah menjalar ke lima provinsi, yakni Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, dan Tshopo. Ituri tetap menjadi episentrum wabah yang disebabkan oleh strain virus Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)