Trump dan Netanyahu Kehilangan Kekuasaan, Iran Malah Jalin Kerja Sama Pertahanan dengan Rusia
Partai Republik pendukung Trump dan Partai Likud pimpinan Netanyahu kehilangan mayoritas, sementara Iran justru mempererat kerja sama pertahanan dengan Rusia. Sekretaris Keamanan Tertinggi Iran Mohsen Rezaei bertemu Putin di Kremlin untuk membahas keamanan regional pasca-perang dan pembangunan jalur pipa gas.
Partai Republik yang mendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump kehilangan suara mayoritas, demikian pula Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tidak lagi berkuasa. Kedua sekutu tersebut kini hanya tinggal menjalankan sisa pemerintahan. Di tengah perubahan politik itu, Iran yang selama ini menjadi musuh bersama AS dan Israel justru sedang menjalin kerja sama pertahanan dengan Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Sekretaris Keamanan Tertinggi Iran Mohsen Rezaei di Kremlin pada Kamis (5/11), setelah para negosiator Iran bertemu dengan mediator untuk membahas proposal mengakhiri permusuhan dengan AS. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Rezaei menyampaikan pesan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei kepada Putin. Kantor Putin juga mengonfirmasi pertemuan tersebut di Kremlin.
"Masalah-masalah regional penting dibahas dengan Putin, dan percakapan penting terjadi mengenai periode pasca-perang dan pengaturan keamanan regional," kata Rezaei usai pertemuan, merujuk pada perang antara Iran dan AS.
Rezaei menambahkan bahwa diskusi juga berfokus pada pembangunan jalur pipa gas dari Rusia ke Iran. Proyek ini bertujuan mengatasi kekurangan gas Iran sekaligus memungkinkan Rusia menjual gasnya ke negara-negara tetangga Iran.
Sementara itu, Khamenei dalam pernyataan tertulis pada Rabu menegaskan bahwa tidak boleh ada "sedikit pun kecenderungan untuk tunduk" kepada Amerika Serikat, seperti dikutip Arab News.
Upaya perdamaian selama ini terfokus pada status masa depan Selat Hormuz yang strategis, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, sanksi terhadap Republik Islam Iran, serta dimulainya kembali negosiasi mengenai program nuklir Teheran. Seorang pejabat senior Iran pekan ini menyatakan bahwa kedua pihak masih sangat berbeda pendapat.
"Namun, kami telah mengatakan kepadanya bahwa dalam masalah diplomasi, kami telah mengumumkan tujuh syarat kepada Amerika. Selama mereka tidak melaksanakan tujuh syarat kami, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun melakukan negosiasi," tegas Rezaei.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)