Taiwan Pantau Ketat Latihan Tembak Militer China di Lima Perairan, Ketegangan Kembali Memanas
Taiwan memantau cermat latihan tembak langsung militer China di lima wilayah perairan yang membentang dari Laut China Selatan hingga Provinsi Liaoning. Menhan Taiwan Wellington Koo menyebut latihan melibatkan artileri pantai. Ketegangan memanas setelah Presiden Lai Ching-te menegaskan Taiwan tak akan mengorbankan kebebasan, sementara Beijing menuduhnya sebagai separatis.
Taiwan meningkatkan kewaspadaan menyusul serangkaian latihan tembak langsung yang digelar militer China di sejumlah wilayah pesisir pada pekan ini. Pemantauan ketat dilakukan di tengah ketegangan yang masih membayangi hubungan Taipei dan Beijing terkait status Taiwan.
Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo menyatakan pada Senin (12/10) bahwa penilaian awal menunjukkan latihan tersebut melibatkan artileri pantai dan unit militer terkait. Menurutnya, Taiwan akan terus mengawasi setiap pergerakan militer China dengan cermat.
"Kami berpegang pada prinsip mengantisipasi musuh seluas mungkin, jadi kami akan terus memantau aktivitas mereka secara cermat, baik itu penembakan maupun latihan militer," ujar Koo kepada wartawan di parlemen.
Administrasi Keselamatan Maritim China sebelumnya mengumumkan larangan pelayaran di lima wilayah perairan mulai Kamis (8/10). Kawasan latihan itu membentang dari Laut China Selatan hingga Provinsi Liaoning di China timur laut. Meski demikian, larangan tersebut tidak mencakup perairan di sekitar Taiwan, dengan lokasi terdekat berada di lepas pantai Provinsi Zhejiang, China timur. The Straits Times melaporkan latihan dijadwalkan berlangsung sepanjang pekan ini.
Di sisi lain, Presiden Taiwan Lai Ching-te dalam pidato Hari Nasional pada Sabtu (10/10) menegaskan pemerintahannya menjunjung tinggi perdamaian, namun tidak akan mengorbankan kebebasan Taiwan. Ia juga menekankan bahwa hak rakyat Taiwan untuk menentukan masa depan mereka harus dihormati.
Pernyataan Lai langsung mendapat kecaman dari Beijing. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menyebut Lai sebagai seorang separatis. Pemerintah China juga berulang kali menolak tawaran dialog yang disampaikan pemimpin Taiwan tersebut.
Pada Minggu (11/10), Kementerian Pertahanan China menuduh Lai membesar-besarkan ancaman dari Beijing dan berupaya mencari kemerdekaan melalui kekerasan. Kementerian itu menegaskan latihan dan pengerahan rutin Tentara Pembebasan Rakyat di sekitar Taiwan dimaksudkan untuk mencegah gerakan kemerdekaan Taiwan yang gegabah dan campur tangan pihak luar, serta menjaga keamanan dan kesejahteraan rakyat Taiwan.
China belum secara langsung mengaitkan latihan militer pekan ini dengan pidato Lai. Namun, militer China hampir setiap hari beroperasi di sekitar Taiwan. Sebelumnya, Beijing terakhir kali menggelar latihan perang skala besar di sekitar Taiwan pada akhir Desember, sebagai respons terhadap pengumuman penjualan senjata Amerika Serikat senilai US$11 miliar kepada Taiwan, yang menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Lai kembali menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau tersebut. Ia juga menyatakan Beijing tidak memiliki hak untuk mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)