Dua Kali Disuntik Mati tapi Tetap Hidup, Christa Pike Kembali ke Penjara dan Bisa Berjalan

Christa Pike, terpidana mati asal Tennessee, Amerika Serikat, tetap hidup meski dua kali menjalani eksekusi suntik mati. Perempuan 50 tahun itu sempat dirawat di rumah sakit sebelum dikembalikan ke penjara. Pengacaranya menyebut Pike kini sadar penuh, mampu berbicara, dan berjalan. Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Frank Strada, mengundurkan diri menyusul peristiwa ini.

Oct 13, 2026 - 00:02
Updated: 8 hours ago
0 0
Dua Kali Disuntik Mati tapi Tetap Hidup, Christa Pike Kembali ke Penjara dan Bisa Berjalan
Dua Kali Disuntik Mati tapi Tetap Hidup, Christa Pike Kembali ke Penjara dan Bisa Berjalan

Christa Pike, terpidana mati asal Tennessee, Amerika Serikat, mengejutkan banyak pihak karena tetap hidup setelah dua kali menjalani eksekusi suntik mati. Setelah sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, perempuan berusia 50 tahun itu dikembalikan ke penjara. Hingga kini belum ada penjelasan resmi apakah Pike akan menjalani hukuman mati ulang.

Peristiwa eksekusi yang gagal itu berlangsung dramatis. Menurut pengacara sekaligus saksi di ruang eksekusi, Randy Spivey, tim eksekusi Tennessee butuh lebih dari satu jam hanya untuk memasang dua jalur infus intravena yang akan digunakan menyuntikkan dosis besar pentobarbital, obat penenang yang biasanya mematikan.

Selama proses pemasangan infus yang berulang kali gagal itu, Pike disebut tetap tenang dan bahkan berusaha membantu para petugas. Ia berulang kali menunjuk bagian tubuhnya yang mungkin memiliki pembuluh darah sambil meminta petugas mencoba di titik tersebut. "Tolong coba di sini, saya rasa tidak apa-apa. Tolong coba di bahu saya, lebih tinggi," kata Pike dengan tenang, seperti dikutip dari The Guardian.

Ketika tim akhirnya berhasil membuat jalur infus yang dianggap berfungsi dan eksekusi dilanjutkan, Pike justru mengucapkan terima kasih kepada para petugas. Spivey menilai kliennya bersikap baik dan kooperatif sepanjang proses tersebut. Namun, ia juga menyebut Pike terdengar menangis, merintih, dan bernapas keras, begitu pula yang didengar wartawan yang hadir di ruang eksekusi.

Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan Colleen Slemmer, teman sekelasnya, pada 1995 saat ia berusia 18 tahun. Ia tercatat sebagai satu-satunya orang yang pernah selamat dari eksekusi suntik mati secara utuh. Setelah peristiwa itu, Pike kembali sadar penuh dan kini mampu berbicara serta berjalan di sekitar ruangan, menurut pengacaranya.

Spivey mengaku terhantui oleh eksekusi gagal yang ia sebut mengerikan itu. "Apa yang saya lihat bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi lagi. Itu dilakukan atas nama kita semua," ujarnya kepada wartawan.

Sebelumnya, kuasa hukum Pike sempat meminta kliennya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat dengan alasan kondisi medis. Pike mengidap trombositosis, kondisi ketika jumlah trombosit dalam darah terlalu tinggi sehingga darah mudah menggumpal dan menyumbat pembuluh darah. Tim pengacara telah memperingatkan bahwa gumpalan darah di tempat suntikan bisa menghalangi zat kimia masuk ke pembuluh darah. Meski demikian, belum jelas apakah Pike mengalami masalah kesehatan jangka panjang setelah peristiwa ini.

Saat ini penyelidikan tengah dilakukan untuk mengetahui penyebab Pike lolos dari maut. Di tengah proses itu, Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Frank Strada, mengundurkan diri menyusul peristiwa eksekusi yang gagal tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User