Pakar Bedah Cuaca di Balik Jatuhnya Learjet 60, Terdeteksi Awan Konvektif Raksasa

Pakar meteorologi Deni Septiadi merekonstruksi kondisi cuaca saat Learjet 60 jatuh di Florida pada 1 November. Citra satelit GOES-19 dan radar NEXRAD menunjukkan pesawat melintasi sistem awan konvektif luas dengan suhu puncak minus 70 hingga minus 80 derajat Celsius. Kondisi itu berpotensi memicu turbulensi dan icing, namun penyebab pasti kecelakaan masih menunggu investigasi NTSB.

Nov 04, 2026 - 08:02
Updated: 8 hours ago
0
Pakar Bedah Cuaca di Balik Jatuhnya Learjet 60, Terdeteksi Awan Konvektif Raksasa
Pakar Bedah Cuaca di Balik Jatuhnya Learjet 60, Terdeteksi Awan Konvektif Raksasa

Pesawat Learjet 60 yang jatuh di Florida, Amerika Serikat, pada Minggu (1/11), disebut sempat melintasi kawasan sistem awan konvektif berskala besar yang berpotensi menimbulkan turbulensi dan pembentukan es. Temuan itu disampaikan peneliti meteorologi sekaligus Ketua Pokja Bencana Hidrometeorologi Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Deni Septiadi, berdasarkan hasil rekonstruksi citra satelit dan radar.

Deni menelaah kondisi cuaca di sekitar lintasan pesawat menggunakan citra inframerah GOES-19, radar cuaca NEXRAD, serta data lintasan penerbangan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B). Rekonstruksi dilakukan setelah awak pesawat dilaporkan menghadapi icing, turbulensi sedang, dan presipitasi sebelum kecelakaan terjadi.

"Rekonstruksi satelit dan radar menunjukkan bahwa pesawat berada dalam lingkungan atmosfer konvektif yang berpotensi berbahaya," ujar Deni kepada CNNIndonesia.com, Selasa (3/11). Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut belum memastikan gangguan atmosfer menjadi penyebab kecelakaan.

Hasil rekonstruksi memperlihatkan perkembangan sistem awan konvektif berskala luas di Florida Selatan menjelang kecelakaan. Berdasarkan estimasi eksploratif, selubung awan dengan suhu kecerahan minus 32 derajat Celsius atau lebih dingin mencapai sekitar 225.000 kilometer persegi. Sementara area dengan suhu minus 52 derajat Celsius atau lebih dingin diperkirakan seluas 135.000 kilometer persegi, dengan sebagian puncak awan bersuhu sekitar minus 70 hingga minus 80 derajat Celsius.

Menurut Deni, karakteristik itu mengindikasikan kemungkinan adanya Mesoscale Convective System (MCS), yakni sistem badai terorganisasi yang terdiri atas sejumlah sel konvektif. Luas selubung awannya bahkan melampaui persyaratan luasan Mesoscale Convective Complex (MCC), meski kontinuitas, durasi, dan bentuk sistem belum sepenuhnya tervalidasi.

Rekonstruksi lintasan penerbangan menunjukkan pada pukul 17.46 UTC atau sekitar tiga menit sebelum kecelakaan, pesawat berada di ketinggian sekitar 35.000 kaki atau 10,7 kilometer, tepat di bawah selubung awan dengan suhu puncak sangat dingin. Sistem awan tersebut secara vertikal berpotensi menjangkau atau melampaui ketinggian penerbangan, tetapi citra satelit dan reflektivitas radar tidak secara langsung memastikan intensitas turbulensi maupun kandungan es pada posisi pesawat.

Peneliti dari University of South Florida, Joseph Post, menyoroti bahaya badai petir bagi penerbangan. "Bahaya tersebut berasal dari turbulensi dan lapisan es akibat badai petir. Oleh karena itu, badai petir mungkin menjadi fenomena cuaca paling berbahaya dalam dunia penerbangan," kata Post, dikutip dari WFLA.

Dalam analisisnya, Deni menjelaskan arus naik pada Cumulonimbus yang berkembang kuat dapat mengangkut tetes air superdingin dan partikel es ke lapisan atmosfer lebih tinggi. Pilot dan CEO Jettly, Justin Crabble, menambahkan bahwa tetesan air sangat dingin dapat membeku saat bersentuhan dengan badan pesawat. "Bahkan, lapisan es yang relatif tipis sekalipun dapat memengaruhi cara pesawat terbang secara signifikan, begitu pula dengan dampak turbulensi terhadap pesawat," kata Crabble kepada LADbible, Senin (2/11).

Deni menyebut akumulasi es berpotensi mengubah profil aerodinamis sayap, meningkatkan hambatan, menurunkan gaya angkat, serta mengganggu sensor. Selain itu, konsentrasi kristal es di bagian atas sistem konvektif dapat menimbulkan risiko ice crystal icing, terutama pada komponen mesin dan sensor tertentu, meski kondisi itu belum dapat dipastikan terjadi pada lintasan Learjet. Interaksi arus naik, arus turun, serta perubahan kecepatan dan arah angin juga dapat membuat pesawat bergerak naik-turun secara mendadak hingga puluhan sampai ratusan meter.

Awak pesawat dilaporkan mengalami turbulensi sedang, sementara kemungkinan turbulensi lebih kuat pada fase berikutnya masih merupakan hipotesis yang perlu diuji. "Namun, apakah gangguan atmosfer berperan langsung terhadap hilangnya kendali, atau apakah terdapat keterlibatan faktor mekanis dan struktural, belum dapat dipastikan. Investigasi National Transportation Safety Board (NTSB) tetap diperlukan untuk menetapkan penyebab kecelakaan," tulis Deni.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User