Sindikat Scam Kamboja Pindah Operasi ke Madagaskar, Rekrut Korban Lewat Facebook

Jaringan penipuan online yang sebelumnya beroperasi di Kamboja diduga memindahkan operasinya ke Madagaskar. Sindikat ini merekrut warga Afrika melalui Facebook dengan iming-iming pekerjaan, tetapi korban dipaksa melakukan penipuan setelah paspor disita. Otoritas Madagaskar menggerebek 13 kompleks penipuan dan mengekstradisi 148 warga China.

Oct 31, 2026 - 20:01
Updated: 8 hours ago
0
Sindikat Scam Kamboja Pindah Operasi ke Madagaskar, Rekrut Korban Lewat Facebook
Sindikat Scam Kamboja Pindah Operasi ke Madagaskar, Rekrut Korban Lewat Facebook

Jaringan penipuan online yang sebelumnya beroperasi di Kamboja diduga telah memindahkan sebagian operasinya ke Madagaskar, Afrika. Sindikat tersebut merekrut warga negara Afrika melalui media sosial dengan janji pekerjaan dan gaji, namun berujung pada perdagangan manusia.

Otoritas Madagaskar mengungkap keterkaitan antara pusat-pusat penipuan yang digerebek di negaranya dengan kelompok kriminal yang sebelumnya menjalankan operasi serupa di Kamboja. Pusat penipuan tersebut menjalankan berbagai modus, mulai dari penipuan asmara (romance scam), mata uang kripto, hingga investasi.

Dalam operasi pada Agustus dan September 2026, otoritas Madagaskar membongkar 13 kompleks penipuan yang dijalankan oleh warga negara China. Penggerebekan dilakukan bekerja sama dengan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ). Kementerian Kehakiman Madagaskar menyatakan sebanyak 148 warga negara China yang terlibat telah diekstradisi ke negara asal mereka. Sementara itu, otoritas AS menyebut sekitar US$52 juta dalam bentuk mata uang kripto disita hanya dalam satu hari, dan lebih dari 3.200 perangkat elektronik diperiksa.

Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) sebelumnya telah memperingatkan perluasan jaringan penipuan online, khususnya ke kawasan Afrika bagian selatan. Seperti operasi di Asia Tenggara, pusat scam di Madagaskar diduga memikat pekerja dari berbagai negara Afrika melalui media sosial dengan janji pekerjaan dan gaji.

Sekitar 20 warga negara Kenya, Rwanda, Uganda, dan Zimbabwe kini berada dalam tahanan otoritas Madagaskar. Namun, temuan awal menunjukkan sebagian dari mereka kemungkinan merupakan korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja sebagai penipu. Kepala Unit Kriminal Kepolisian Madagaskar, Hassan Mouigni, mengungkapkan bahwa para korban direkrut melalui Facebook untuk bekerja di sektor perdagangan, tetapi setelah tiba, paspor mereka disita oleh bos dan mereka dipaksa melakukan penipuan.

Salah satu tersangka yang menjalankan skema penipuan asmara adalah warga negara Malaysia bernama Chui Kok Wa. Menurut otoritas AS, Chui menjalankan operasinya dari sebuah vila di kawasan elite Ivato, dekat ibu kota Antananarivo. Penyelidikan terhadap dokumen perjalanannya mengungkap hubungan dengan Kamboja. Mouigni menyatakan bahwa dari visa di paspornya, dapat disimpulkan Chui pertama kali tiba di Madagaskar pada 2024 dan sebelumnya berada di Kamboja. Departemen Kehakiman AS menduga kelompok kriminal terkait Malaysia dan China tersebut mulai membuka pusat penipuan di Madagaskar pada awal 2025, kemungkinan dipindahkan dari Kamboja menyusul tindakan penegakan hukum di negara Asia Tenggara itu.

Koordinator Unit Kejahatan Siber Kementerian Komunikasi Madagaskar, Tsitohaina Ralihivao, mengaitkan perpindahan jaringan tersebut dengan penindakan terhadap pusat scam di Kamboja pada 2025. Penindakan itu terjadi di kawasan dekat perbatasan Thailand, ketika militer kedua negara juga terlibat bentrokan. "Ketika pihak Thailand membongkar mereka, mereka hanya memindahkan operasinya. Organisasi yang sama datang ke Madagaskar," kata Ralihivao. Temuan serupa juga diungkap dalam dokumen pengadilan FBI yang dibagikan Departemen Kehakiman AS, yang memuat keterangan tiga warga negara Brasil yang bekerja di kompleks penipuan di Antananarivo. Ketiganya mengaku awalnya merespons lowongan pekerjaan online, tetapi kemudian bekerja di kompleks penipuan di Kamboja, dan selanjutnya dipindahkan ke Antananarivo pada awal Mei 2026 akibat konflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand serta operasi kepolisian.

Menurut Mouigni, otoritas AS turut menangani kasus ini karena pusat penipuan di Madagaskar terutama menargetkan negara-negara berbahasa Inggris, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Pakistan. Ralihivao menjelaskan bahwa hal itu mendorong sindikat merekrut pekerja dari negara-negara Afrika yang menggunakan bahasa Inggris. Aktivitas jaringan penipuan tersebut juga mulai menarik perhatian masyarakat dan otoritas di Antananarivo. Mouigni mengatakan para pelaku awalnya menyewa vila-vila tersembunyi, tetapi kemudian mulai menyewa seluruh hotel. Salah satu kompleks penipuan diketahui beroperasi di Live Hotel, Antananarivo, dengan pemimpinnya seorang warga negara China yang termasuk di antara mereka yang diekstradisi ke Beijing.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User