Bukan Cuma Sawit, Pemerintah Bidik Kelapa hingga Rumput Laut demi Industri Bernilai Tambah

Pemerintah memperluas hilirisasi dari kelapa sawit, kelapa, hingga rumput laut untuk meningkatkan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja. Menperin Muhammad Sarmuji menegaskan industrialisasi tak boleh berhenti di bahan mentah, dengan contoh sukses nikel. Kawasan industri khusus sagu juga disiapkan di Seram Bagian Timur, Maluku.

Oct 31, 2026 - 20:01
Updated: 9 hours ago
0
Bukan Cuma Sawit, Pemerintah Bidik Kelapa hingga Rumput Laut demi Industri Bernilai Tambah
Bukan Cuma Sawit, Pemerintah Bidik Kelapa hingga Rumput Laut demi Industri Bernilai Tambah

Pemerintah terus memperluas cakupan hilirisasi ke sejumlah komoditas unggulan nasional, tidak hanya kelapa sawit, tetapi juga kelapa dan rumput laut. Langkah ini diarahkan untuk menaikkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja dan memacu pertumbuhan industri di berbagai daerah.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa proses industrialisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan mentah atau setengah jadi. Menurutnya, rantai produksi perlu dilanjutkan hingga menghasilkan barang jadi, bahkan membangun ekosistem industri pendukung.

"Kita jangan sampai hanya berhenti pada pasokan bahan mentah atau setengah jadi, tapi kita harus inline dari bahan baku sampai pada barang jadi dan bahkan bukan hanya membentuk satu barang jadi saja. Bisa menciptakan satu ekosistem baru, di mana bisa menumbuhkan industri-industri pendukung untuk proses industrialisasi ke depan," ujar Sarmuji dalam paparannya di Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) 2026 di Jakarta, Jumat (30/10).

Ia mencontohkan hilirisasi nikel yang telah berkembang dari pengolahan bijih menjadi produk antara, komponen baterai, hingga kendaraan listrik. Menurut Sarmuji, keberhasilan industrialisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari peningkatan nilai tambah, kemampuan teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan rantai pasok.

Selain nikel, pemerintah melihat potensi besar pada industri kelapa sawit beserta produk turunannya yang dinilai menjadi salah satu keunggulan Indonesia dibandingkan negara lain. Pengembangan industri kelapa juga mulai menunjukkan pertumbuhan, termasuk produk olahan seperti susu kelapa yang telah menembus pasar luar negeri.

"Industri kelapa kita tumbuh dengan sangat baik, dan kita akan konsen juga pada industri kelapa kita," kata Sarmuji.

Komoditas lain yang menjadi perhatian adalah rumput laut. Menurut Sarmuji, rumput laut dapat diolah menjadi berbagai bahan untuk produk kosmetik, obat-obatan, makanan, hingga minuman. Pengembangannya dinilai berpotensi memberi manfaat besar bagi masyarakat pesisir, mengingat Indonesia memiliki wilayah pantai dan laut yang luas.

"Ini kalau dikembangkan, luasan lautan, pantai kita demikian panjang, pasti akan sangat besar manfaatnya bagi kehidupan masyarakat di pelosok-pelosok, di pesisir pantai yang selama ini tidak memiliki akses yang cukup baik untuk masuk sektor industri," ujarnya.

Pemerintah juga berencana mengembangkan kawasan industri khusus berbasis sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, karena daerah tersebut memiliki potensi sagu yang melimpah. "Sagu kita melimpah. Di Seram Bagian Timur melimpah. Kita rencanakan ini menjadi satu kawasan industri khusus sagu," kata Sarmuji.

Ia mengingatkan bahwa pengembangan komoditas unggulan daerah tidak hanya mendorong pertumbuhan industri, tetapi juga memperluas pemerataan pembangunan, terutama di luar Pulau Jawa. Pemerintah berharap pengembangan industri berbasis potensi lokal mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User