Potensi Pertemuan Putin-Trump di KTT APEC China, Kremlin Buka Suara
Kremlin mengisyaratkan potensi pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT APEC di China pada November 2026. Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yury Ushakov, menyebut pertemuan itu hampir pasti terjadi jika kedua pemimpin hadir. Namun, belum ada rencana resmi yang ditetapkan. Sementara itu, Menlu Rusia Sergey Lavrov mengecam bantuan militer Barat ke Ukraina sebagai langkah anti-Rusia.
Jakarta, CNN Indonesia -- Peluang pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengemuka. Kremlin menyebut kedua pemimpin negara adidaya itu berpotensi besar bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang dijadwalkan berlangsung di China pada November mendatang, jika keduanya mengonfirmasi kehadiran.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Penasihat Kebijakan Luar Negeri Kremlin, Yury Ushakov, dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Rusia, VGTRK, pada Minggu (23/8). Ushakov menegaskan bahwa apabila kedua pemimpin hadir dalam acara yang sama, pertemuan di antara mereka hampir tidak terhindarkan.
"Jika kedua pemimpin hadir dalam acara yang sama, menurut saya mereka berdua dipastikan tidak terhindarkan untuk saling bertemu dan berbincang," ujar Ushakov, seperti dilansir Anadolu.
Meski demikian, Ushakov mengakui bahwa hingga saat ini belum ada sinyal atau rencana resmi yang ditetapkan terkait agenda pertemuan bilateral tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa pelaksanaan KTT APEC masih menyisakan waktu sekitar tiga bulan, sehingga masih banyak agenda internasional lain yang harus dijalani sebelumnya.
"Kita harus menjalani hari hingga saat itu tiba. Sebelum APEC, kita masih memiliki banyak agenda acara internasional besar lainnya," tambah Ushakov.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dalam wawancara terpisah dengan VGTRK, kembali melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Barat. Lavrov menegaskan bahwa negara-negara anggota NATO dan Uni Eropa (UE) tidak akan bisa melepaskan diri dari tanggung jawab publik atas bantuan militer yang mereka kucurkan ke Ukraina.
Lavrov menyebut kebijakan yang diambil negara-negara Barat tersebut sebagai langkah politik sentimen anti-Rusia. Ia menegaskan bahwa Moskow akan memperhitungkan setiap tindakan yang diambil oleh elit politik Barat di Inggris, Brussel, Paris, Berlin, serta negara anggota NATO dan UE lainnya.
"Mereka tahu apa yang sedang mereka perbuat dan sekarang mencoba untuk menarik diri dari publik secara perlahan. Usaha pencitraan itu tidak akan berhasil," tegas Lavrov.
Pernyataan-pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi antara Rusia dan Barat, sekaligus membuka spekulasi mengenai arah hubungan AS-Rusia di masa mendatang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)