Partai Arab Jadi Penentu Kursi PM Israel, Mengapa Netanyahu dan Eisenkot Justru Menolak Berkoalisi?
Koalisi partai Arab Joint List dan Ra'am diprediksi meraih 20 kursi parlemen Israel dan berpeluang menentukan kursi perdana menteri. Namun, Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot menolak menggandeng mereka karena perbedaan nilai dan ideologi. Penghitungan suara baru mencapai 90 persen, dengan blok Netanyahu 52 kursi dan aliansi Eisenkot 48 kursi, belum ada yang mencapai mayoritas 61 kursi.
Koalisi partai Arab di Israel, Joint List dan Ra'am, diprediksi meraih 20 kursi parlemen pada pemilu kali ini. Perolehan itu membuat mereka berpotensi menjadi penentu siapa yang akhirnya menduduki kursi perdana menteri. Namun, dua kandidat terkuat, Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot, justru menunjukkan keengganan menarik partai Arab ke dalam koalisi pemerintahan.
Hingga kini, Komite Pemilihan Pusat baru menyelesaikan penghitungan sekitar 90 persen suara. Belum ada blok yang mencapai ambang mayoritas 61 dari 120 kursi parlemen. Hasil sementara memperlihatkan blok Netanyahu mengumpulkan 52 kursi, sedangkan aliansi Eisenkot meraih 48 kursi.
Analis politik Palestina, Ahmed Najar, menilai penolakan kedua blok itu terhadap partai Arab berakar pada perbedaan ideologis. Menurut dia, Eisenkot bahkan menerapkan semacam uji loyalitas terhadap partai-partai Arab dan enggan bergantung pada dukungan mereka, padahal hitungan elektoral menunjukkan dukungan itu sangat dibutuhkan.
Najar menyebut kemitraan dengan partai Arab bukan hanya mungkin, tetapi menjadi satu-satunya jalan yang realistis bagi Eisenkot. Jika keduanya bergabung, kursi parlemen yang bisa diraih mencapai 66, cukup untuk menggulingkan Netanyahu yang menjadi tujuan bersama kedua pihak.
Sikap Netanyahu berbeda arah. Ia dikenal berseberangan dengan nilai dan visi partai Arab. Dalam berbagai kesempatan, Netanyahu menuduh partai Arab mendukung terorisme dan ingin menghancurkan negara Yahudi. Karena itu, ia lebih memilih menggandeng partai sayap kanan atau ultraortodoks ketimbang partai Arab.
Pakar dari lembaga think tank Palthink, Omar Shaban, mengungkap bahwa pemimpin Partai Ra'am, Mansour Abbas, telah memberi sinyal kesediaan bergabung dengan Eisenkot jika kandidat mereka terpilih. Ra'am mengajukan syarat, yakni persoalan keamanan internal akan ditangani partai Arab. Abbas bahkan menunjuk anggota parlemen Yahudi, Yoav Segalovitz, untuk menempati posisi nomor dua dalam daftar calon Ra'am.
Dari kubu Joint List, pemimpinnya Yousef Jabareen menyatakan siap bertanggung jawab menjatuhkan koalisi sayap kanan Netanyahu. Ia menilai pemerintah yang ada telah membuat kehidupan warga Arab sengsara. Anggota Joint List lainnya, Ahmad Tibi, juga telah mengulurkan tangan untuk bergabung dengan oposisi guna menggulingkan Netanyahu.
Pemimpin partai Demokratik yang tergabung dalam kubu anti-Netanyahu, Yair Golan, mendesak sekutu untuk bekerja sama dengan partai Arab. Menurut dia, pembagian rasis antara suara Yahudi dan suara Arab yang dilakukan Netanyahu tidak boleh lagi diterima. Meski partai Arab sudah menyatakan kesediaan, Eisenkot masih perlu mempertimbangkan banyak hal, termasuk hambatan dari unsur yang lebih radikal dalam masyarakat Israel yang tak ingin pemerintah bergantung pada suara Arab.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)