Omzet Toko Suvenir Trump Anjlok Drastis, Dari Rp214 Juta per Hari Kini Hanya Rp26 Juta
Toko suvenir Donald Trump, Trump Town, di Boones Mill, Virginia, mengalami penurunan omzet drastis dari US$12 ribu per hari menjadi hanya US$1.500-US$2.000. Penurunan ini seiring citra publik Trump yang berada di titik terendah, pasokan barang dari China yang surut, dan kekecewaan pelanggan terhadap kebijakan seperti harga BBM dan perang Iran.
Toko suvenir bertema Donald Trump, Trump Town, yang terletak di Boones Mill, Virginia, Amerika Serikat, kini menghadapi masa sulit. Omzet toko milik Whitey Taylor ini merosot tajam dibandingkan era kejayaannya. Pada masa puncak, Taylor bisa mengantongi US$12 ribu atau sekitar Rp214,7 juta per hari, bahkan sesekali mencapai US$15 ribu atau Rp268,4 juta. Kini, pemasukan hariannya hanya berkisar US$1.500 hingga US$2.000 atau Rp26,8 juta sampai Rp35,8 juta, kadang menembus US$3.000 atau Rp53,7 juta.
Penurunan ini terjadi seiring dengan citra publik Trump yang berada di rekor terendah. Meski begitu, sejumlah pelanggan setia masih datang, namun mereka menyimpan kekecewaan terhadap beberapa kebijakan. Stevie Lovell, teman Taylor, mengaku kecewa dengan harga bahan bakar minyak dan tidak mendukung perang Iran. Ia juga terganggu dengan berita bahwa Trump menghasilkan lebih banyak uang selama menjabat dibanding presiden sebelumnya. "Saya masih penggemar Trump. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan dia, tapi saya juga tidak sepenuhnya setuju dengan pendeta saya," ujar Lovell.
Faktor lain yang menyebabkan sepinya pembeli adalah berkurangnya pasokan barang dari China. Pemasok luar negeri disebut tidak lagi banyak memproduksi barang baru bertema ucapan terbaru Trump. Taylor juga menilai sebagian penurunan justru akibat larisnya toko yang berada di persimpangan jalan ramai tersebut. "Kebanyakan orang yang datang sudah punya 10 topi Trump, lima bendera, dan entah apa lagi," katanya.
Toko ini menjual berbagai macam barang Trump, mulai dari gelas sloki, boneka kepala goyang, hingga cetakan es. Beberapa produk menampilkan foto mugshot Trump atau foto Trump mengepalkan tangan usai percobaan pembunuhan. Ada pula kaleng berlabel kentut sapi yang menyindir komentar anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez soal pemanasan global. Menurut Taylor, bendera bergambar Trump bertuliskan "DADDY'S HOME" paling banyak dibeli oleh mahasiswi.
Survei CNN pada September menunjukkan dua pertiga warga AS menilai Trump memperburuk ekonomi. Mayoritas juga menyebut perang Iran dan tarif merugikan keuangan mereka. Jamie Varela, seorang pelanggan, mengaku belanja dapurnya mencapai US$800 sampai US$1.000 atau Rp14,3 juta hingga Rp17,9 juta per bulan. Ia menilai Trump ikut bertanggung jawab atas mahalnya harga akibat perang, tetapi tetap menganggap perang Iran perlu.
Barbara Keith, pelanggan asal South Carolina, mempertanyakan mengapa harga bensin tetap tinggi meski AS membuat kesepakatan dengan Venezuela. Namun, ia tidak menyalahkan Trump. Keith juga tidak percaya dengan janji Trump memberi US$5.000 atau Rp89,5 juta kepada setiap warga AS jika Partai Republik tetap menguasai Kongres dalam pemilu sela. "Mereka semua jadi tukang jualan, dan mereka akan berbohong demi mendapatkan suara Anda. Tidak peduli dari pihak mana," ujarnya.
Varela dan kasir toko Maria Martin belum menentukan pilihan untuk pemilu sela, sementara Keith enggan mengungkap pilihannya. Meski begitu, Keith tetap berbelanja. Ia keluar dari toko membawa cetakan es baru berbentuk wajah Trump bertuliskan "end the wokeness".
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)