Kemampuan Militer Iran Bertahan di Tengah Gempuran AS
Meskipun digempur habis-habisan oleh AS, Iran masih mampu melancarkan serangan balasan yang menewaskan tentara AS. Analis menilai kemampuan militer Iran tetap tangguh dan pulih lebih cepat dari perkiraan, didukung oleh bantuan intelijen Rusia dan China serta persenjataan rudal dan drone canggih.
Serangan beruntun Amerika Serikat terhadap Iran belum mampu melumpuhkan kemampuan militer Teheran. Iran masih dapat melancarkan serangan balasan yang menimbulkan korban jiwa di pihak AS, seperti yang terjadi di Yordania di mana tiga tentara AS tewas. Serangan ini menunjukkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) masih memiliki kapasitas untuk menimbulkan kerugian besar, lima bulan setelah perang meletus pada Februari lalu.
Para analis menilai bahwa serangan tersebut menggarisbawahi kenyataan yang tidak menyenangkan bagi Washington. Terlepas dari gempuran demi gempuran, Iran masih mempertahankan kemampuan militer yang dibutuhkan untuk melanjutkan perang asimetris berkepanjangan. Direktur analisis militer Defense Priorities, Jennifer Kavanagh, menyatakan bahwa kemampuan militer Iran tetap tangguh dan pulih lebih cepat dari perkiraan.
Menurut Kavanagh, militer Iran bukanlah 'tidak efektif dalam pertempuran' seperti yang diduga Pentagon. Meskipun mengalami kerusakan signifikan, Iran terus belajar dan beradaptasi. Ia juga menambahkan bahwa presisi serangan Iran terhadap target militer AS kemungkinan dibantu oleh intelijen Rusia dan China.
Dosen senior di King's College London, Andreas Krieg, berpendapat bahwa kemampuan Iran juga didukung oleh lokasi dan desain situs militer AS. Sekitar 50 ribu pasukan AS beroperasi dari pangkalan tetap yang terekspos dan berada dalam jangkauan rudal serta drone Iran yang semakin canggih. Banyak personel ditempatkan di fasilitas semi-permanen yang dirancang untuk melindungi dari roket dan mortir, bukan dari rudal balistik presisi.
Krieg menambahkan bahwa Iran masih memiliki persenjataan rudal dan drone canggih yang mampu melawan sistem pertahanan udara AS, termasuk Patriot dan THAAD. Rudal balistik, rudal jelajah, dan drone bersenjata dapat mendekati target dengan lintasan dan kecepatan berbeda. Meskipun sebagian besar senjata dihancurkan, sejumlah kecil yang menembus pertahanan dapat menimbulkan korban besar.
Mona Yacoubian dari CSIS mencatat bahwa Iran menunjukkan niat lebih besar dalam menyerang aset militer AS pada serangan terbaru. Ia menilai pola baru ini menunjukkan peningkatan akurasi, penurunan kemampuan sistem pertahanan AS, atau kombinasi faktor lainnya. Secara keseluruhan, jumlah korban tewas di pihak AS mencapai 18 orang sejak perang pecah, termasuk tiga prajurit di Yordania dan kematian lainnya akibat kecelakaan non-tempur.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)