Jadi Otak di Balik 'ChatGPT untuk Dokter', Harta Daniel Nadler Tembus Rp137,5 Triliun
Daniel Nadler, pendiri OpenEvidence yang dikenal sebagai 'ChatGPT untuk Dokter', kini masuk jajaran konglomerat AI dengan kekayaan US$7,6 miliar atau sekitar Rp137,5 triliun. Platform buatannya dipakai lebih dari 758 ribu dokter dan valuasinya menembus US$12 miliar pada awal 2026. Sebelumnya, ia sukses menjual Kensho Technologies ke S&P Global senilai US$550 juta.
Nama Daniel Nadler kini masuk dalam jajaran orang terkaya dunia berkat sepak terjangnya di industri kecerdasan buatan. Pria kelahiran Toronto, Kanada, 3 Juni 1983, itu merupakan salah satu pendiri OpenEvidence, platform mesin pencari berbasis AI yang membantu dokter mengambil keputusan klinis.
Berdasarkan catatan Forbes pada Minggu (25/10), total kekayaan Nadler mencapai US$7,6 miliar atau setara Rp137,5 triliun dengan asumsi kurs Rp18.093 per dolar AS. Angka itu menempatkannya di peringkat ke-516 dalam Daftar Real Time Orang Terkaya Dunia versi Forbes dan peringkat ke-498 pada daftar orang terkaya di bidang teknologi. Majalah Time juga memasukkannya dalam daftar sosok paling berpengaruh di bidang kecerdasan buatan pada 2026.
Perjalanan Nadler di dunia teknologi bermula setelah ia menempuh studi S1 di Universitas Toronto dan melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Harvard hingga meraih gelar PhD di bidang ekonomi politik. Saat menjadi mahasiswa Harvard, ia juga memperdalam studi matematika dan sastra, serta sempat menjadi visiting scholar di The Federal Reserve Bank of Boston pada 2013.
Pengalaman di The Fed menjadi titik balik baginya. Nadler kaget melihat regulator dan analis keuangan di bank sentral Boston masih menggunakan cara manual untuk menganalisis dampak kebijakan global terhadap pasar keuangan. Pada Mei 2013, ia pun mendirikan Kensho Technologies, mesin pencari cerdas untuk analisis data keuangan berbasis AI. Lima tahun kemudian, pada 2018, Kensho Technologies dijual ke S&P Global senilai US$550 juta.
Pada 2022, Nadler menciptakan OpenEvidence bersama rekannya, Zachary Ziegler. Platform tersebut hanya memproses informasi dari sumber medis terpercaya dan berlisensi, sehingga kerap disebut sebagai 'ChatGPT untuk Dokter'. OpenEvidence bermitra dengan sejumlah penerbit jurnal ilmiah dan institusi media ternama, termasuk NCCN Guidelines, The New England Journal of Medicine, hingga The Journal of the American Medical Association.
"Kita berbicara tentang zaman keemasan bioteknologi, di mana obat-obatan baru dan yang lebih baik terus dikembangkan. Namun, bagi para dokter, ini justru terasa seperti zaman kegelapan akibat kelelahan yang ekstrem," ujar Nadler, yang juga menjabat sebagai CEO OpenEvidence, dalam wawancaranya dengan Forbes pada 2025 lalu.
Saat ini, lebih dari 758 ribu dokter tercatat sebagai pengguna OpenEvidence dan bertambah sekitar 55 ribu per bulan. Tenaga medis berlisensi dapat menggunakan platform ini secara gratis, sementara perusahaan memperoleh pemasukan dari iklan. Valuasi OpenEvidence pun terus menanjak hingga ditaksir mencapai US$12 miliar pada awal 2026 setelah menutup putaran pendanaan Seri D senilai US$250 juta, naik dari US$6 miliar pada Oktober 2025 saat putaran Seri C. Nadler sendiri memegang 60 persen saham perusahaan.
Ke depan, Nadler tidak ingin OpenEvidence berhenti sebagai mesin pencari klinis. Ia berambisi melebarkan sayap perusahaan sebagai pengembang obat berbasis AI. Di tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri menulis puisi. Sejak kuliah di Harvard, Nadler memiliki ketertarikan pada dunia sastra dan sempat mendapat bimbingan dari penyair peraih Pulitzer, Jorie Graham. Pada 2016, ia menerbitkan buku puisi pertamanya berjudul "Lacunae: 100 Imagined Ancient Love Poems" melalui penerbit Farrar, Straus and Giroux, dan pernah menjabat di dewan Academy of American Poets. Kini, Nadler tinggal di griya tawang mewah di area Surfside, Florida, AS, dengan sejumlah aset properti di Beverly Hills dan Malibu, California.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)